Di RRI Jakarta, Gemala Hatta Soroti Dampak Digital dan Korupsi terhadap Generasi

Di RRI Jakarta, Gemala Hatta Soroti Dampak Digital dan Korupsi terhadap Generasi

Jakarta, —- Putri Proklamator RI, Gemala Rabi’ah Hatta, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menyikapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Hal itu disampaikan Gemala Rabi’ah Hatta seusai mengikuti Dialog Kilau Pancasila bersama Setio Hajar Dewantara, Ketua Pusaka Indonesia, di Auditorium Abdulrahman Saleh, Jakarta

Menurutnya, jika tidak diantisipasi dengan baik, pengaruh digital dapat merusak tatanan kehidupan generasi muda, melemahkan hubungan sosial, hingga mengikis nilai-nilai luhur bangsa.

Salah satu dampak yang kini mulai terlihat adalah semakin renggangnya hubungan antara anak dan orang tua.

Kehadiran telepon genggam dan berbagai platform digital yang seharusnya menjadi sarana komunikasi justru sering membuat anggota keluarga sibuk dengan dunianya masing-masing

“Kondisi yang cukup memprihatinkan saat ini adalah hubungan antara anak dan orang tua mulai berjarak. Bahkan saat makan bersama, anak sibuk dengan telepon genggamnya,

sementara orang tua juga asyik dengan gawainya masing-masing. Kesempatan untuk berkomunikasi dan mempererat hubungan keluarga menjadi semakin berkurang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti semakin menurunnya hubungan sosial di tengah masyarakat. Budaya saling menyapa, menghormati, dan menghargai sesama yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia perlahan mulai memudar akibat pengaruh kehidupan digital yang berlebihan

“Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah hubungan sosial dan sikap saling menghormati di tengah masyarakat sudah mulai berkurang. Interaksi langsung semakin jarang, sementara komunikasi melalui media sosial sering kali tidak diimbangi dengan etika dan sopan santun,” katanya.

Gemala mengaku hingga kini masih memegang teguh pesan yang diwariskan oleh ayahnya, Mohammad Hatta, untuk selalu menghormati sesama manusia dan menghargai perbedaan.

“Sejak kecil kami diajarkan untuk menghormati orang lain. Apa pun perbedaan yang ada, baik suku, agama, budaya maupun pandangan, kita harus menghargai perbedaan itu.

Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi kekayaan yang memperkuat persatuan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gemala Hatta juga mengaku miris melihat maraknya kasus korupsi yang masih terjadi di berbagai sektor.

Menurutnya, korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merusak sendi-sendi perekonomian bangsa dan menghambat kesejahteraan masyarakat.

“Saya merasa prihatin melihat begitu banyak kasus korupsi yang terungkap.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga merusak fondasi ekonomi bangsa dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi pelayan publik,”

Ia menegaskan bahwa nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab harus menjadi pegangan bagi setiap pemimpin dan aparatur negara. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak akan berjalan optimal apabila praktik korupsi masih terus terjadi.

Gemala berharap generasi muda dapat menjadi pelopor perubahan dengan menanamkan budaya antikorupsi sejak dini serta menjadikan kejujuran, kerja keras, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap perbedaan sebagai landasan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Generasi muda harus cerdas memanfaatkan teknologi, kuat dalam karakter, menghormati perbedaan, serta memiliki integritas untuk membangun Indonesia yang lebih baik,” (Mdtk)