Tanah Datar,— 300 mahasiswa PGSD FKIP Dan Manajemen FEB Universitas Bung Hatta Bung Hatta Padang melaksanakan kunjungan lapangan ke Istano Linduang Bulan Pagaruyung,
Rombongan diterima oleh Daulat Pagaruyung Sutan Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah bersama Istri dan tokoh adat Pagaruyung Armison Dt. Sikoto, Drs. Irwandi Dt. Rajo Malano; Armen Dt. Damuanso (Ketua KAN) F. Malin Cayo; B. Mln Rajo, Puti Reno Rahima Thaib, Puti Reno Revita serta Ketua LKAAM Tanah Datar H. Aresno Datuk Andomo serta Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali, S.H., M.H. sebagai Nara Sumber
kegiatan ini dikoordinatori oleh Dr. Wirnita, S.Pd., M.M., didampingi para dosen: Dr. Gusnetti, M.Pd., Dra. Pebriyenni, M.Si., Dra. Susi Herawati, M.Pd. Dr. Ineng Naini, M.Pd.; Lailatul Husna, S.Pd., M.Pd.,Dr. Erwinsyah Satria, M.Si., M.Pd.; Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd.; Adzanil Prima Septy, M.Pd., Ph.D.; Dr. Enjoni, S.P., M.P.; serta Dr. Hari Adi Rahmad, M.Pd.
Dalam sambutannya, Daulat Pagaruyung Sutan Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah menyampaikan terima kasih kepada Universitas Bung Hatta.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Universitas Bung Hatta yang telah memilih Istano Linduang Bulan sebagai lokasi kunjungan lapangan.
Semoga pengalaman ini memberi manfaat bagi mahasiswa dalam memahami adat dan budaya Minangkabau,” ujarnya. Beliau juga menekankan pentingnya generasi Z untuk tetap memahami akar budaya di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Daulat Pagaruyung juga menekankan pentingnya mahasiswa memahami filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang sarat nilai adat, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan dalam kaum. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga melihat secara langsung praktik adat yang masih dijalankan hingga kini.
Selain itu, Daulat Pagaruyung menyampaikan harapan agar kunjungan ini menjadi media penguatan identitas budaya bagi mahasiswa, terutama bagi mereka yang berasal dari luar Sumatera Barat. Ia berharap pengalaman ini bisa menumbuhkan rasa bangga terhadap adat dan budaya Minangkabau, sekaligus menginspirasi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Koordinator FKIP Universitas Bung Hatta, Dr. Wirnita, menyampaikan apresiasinya atas penyambutan yang diberikan pihak Istano. “Kami sangat berterima kasih atas sambutan luar biasa dari Daulat Pagaruyung dan seluruh tokoh adat yang hadir. Ini adalah kehormatan bagi kami dan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa,” ungkapnya.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan adat dan budaya Minangkabau kepada mahasiswa, yang tidak hanya berasal dari Sumatera Barat, tetapi juga dari daerah lain seperti Riau, Palembang, bahkan Papua.
Hal ini menjadikan kunjungan lapangan sebagai ajang pertukaran budaya sekaligus memperluas wawasan lintas daerah bagi seluruh mahasiswa.
Dalam rangkaian kunjungan itu, Ketua LKAAM Tanah Datar H. Aresno Datuk Andomo memberi pencerahan tentang adat dan budaya Minangkabau
Selain itu, Datuk Andomo menjelaskan budaya merantau dan berdagang dari urang Minang, yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau dalam menebar pengaruh budaya, menjaga hubungan kekerabatan, sekaligus membangun ekonomi keluarga.
Budaya merantau yang dijelaskan Datuk Andomo menjadi salah satu nilai utama dalam masyarakat Minangkabau. Mahasiswa diajak memahami bahwa merantau bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga proses menimba pengalaman, mengembangkan keterampilan, dan membangun jaringan sosial serta ekonomi. Nilai ini menjadi landasan kuat bagi keberhasilan pribadi dan kontribusi terhadap kampung halaman.
Sedangkan Puti Reno Ravita tampil memberi pencerahan mengenai peran Bundo Kanduang dalam kaum dan masyarakat Minangkabau, serta bagaimana masyarakat Minang menganut sistem matrilineal, di mana garis keturunan, harta pusaka, dan warisan adat diturunkan melalui pihak ibu.
Penekanan ini memberikan mahasiswa pemahaman mendalam tentang struktur sosial Minangkabau dan peran perempuan dalam menjaga adat dan kelangsungan budaya.
Dalam kunjungan ini, mahasiswa juga diperkenalkan pidato adat Minangkabau yang digunakan pada momen resmi, termasuk pidato adat untuk memulai makan dan pidato adat untuk pamit pulang.
Pengenalan ini memberi pengalaman praktis langsung bagi mahasiswa untuk memahami tradisi tutur kata dan tata krama dalam adat Minangkabau.
Mahasiswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari dialog adat, pengamatan arsitektur rumah gadang, hingga penelusuran artefak sejarah. Interaksi langsung dengan para pemangku adat memberikan pengalaman mendalam yang memperkuat pemahaman akademik sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Minangkabau.(mdtk)