Oleh M. Irhash Fakhruddin
Durian adalah salah satu buah yang menjadi favorit banyak orang. Rasanya digemari, aromanya khas, bahkan tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang cukup banyak untuk menikmatinya. Namun, ada sesuatu yang menarik dari buah ini. Sesuatu yang begitu disukai justru dibungkus oleh kulit yang dipenuhi duri-duri tajam dan keras. Untuk menikmati isinya, seseorang harus berhadapan terlebih dahulu dengan kulitnya.
Barangkali kehidupan juga memiliki kemiripan dengan itu. Banyak orang yang mencapai keberhasilan setelah melewati perjalanan panjang yang penuh lika-liku. Tidak sedikit pula orang yang mendapatkan kemuliaan setelah melewati penderitaan yang luar biasa. Bahkan, jika kita melihat sejarah para nabi dan rasul, kita akan menemukan bahwa banyak di antara mereka menjalani kehidupan yang jauh dari kata mudah. Ada yang kehilangan orang-orang tercinta, mengalami penolakan, dihina, diusir, bahkan menghadapi ancaman pembunuhan. Kemuliaan mereka tidak hadir dalam kehidupan yang selalu menyenangkan.
Namun, ada pula orang-orang yang memperoleh kemuliaan tanpa harus melewati penderitaan yang sama beratnya. Mereka diberikan kehidupan yang lapang, kesempatan yang luas, serta berbagai kemudahan. Mereka juga mampu mencapai kedudukan yang mulia di hadapan Allah.
Lantas, apa yang membuat orang-orang dengan latar belakang kehidupan yang begitu berbeda itu dapat mencapai kemuliaan?
Barangkali jawabannya bukan terletak pada seberapa berat penderitaan yang pernah dialami, ataupun seberapa banyak kenikmatan yang berhasil dimiliki. Ada satu hal yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana seseorang mengendalikan dirinya melalui kesabaran dan kesyukuran.
Sabar Bukan Hanya untuk Penderitaan
Selama ini, kita cenderung memahami sabar sebagai sikap bertahan ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ketika kehilangan, kita diminta bersabar. Ketika mengalami kesulitan, kita diminta bersabar. Ketika keinginan tidak tercapai, kita juga diminta bersabar.
Pemahaman itu benar, tetapi belum sepenuhnya utuh.
Sabar ternyata tidak hanya diperlukan ketika seseorang berada dalam kesedihan. Bahkan, ketika seseorang berada dalam kenikmatan, ia juga membutuhkan kesabaran.
Mengapa demikian?
Sebab, kenikmatan juga memiliki potensi untuk menjerumuskan seseorang. Kekayaan dapat membuat orang lupa diri. Kekuasaan dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain. Kedudukan dapat membuat seseorang kehilangan kerendahan hati. Bahkan, sesuatu yang awalnya menjadi anugerah dapat berubah menjadi sumber kehancuran ketika tidak mampu dikendalikan.
Di sinilah kesabaran menemukan maknanya yang lain. Sabar dalam kenikmatan adalah kemampuan menahan diri agar tidak berlebihan, tidak melampaui batas, dan tidak diperbudak oleh sesuatu yang sedang dinikmati.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran baik dan buruk tidak selalu sejalan dengan apa yang kita sukai atau tidak kita sukai. Sesuatu yang menyenangkan belum tentu membawa kebaikan, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan belum tentu mendatangkan keburukan.
Artinya, seseorang tidak cukup hanya mampu menikmati kehidupannya. Ia juga harus memiliki kendali atas apa yang dinikmatinya. Sebab, tidak semua yang menyenangkan harus diikuti, tidak semua yang dimiliki harus dihabiskan, dan tidak semua kesempatan harus dimanfaatkan tanpa batas.
Ada kalanya seseorang justru membutuhkan kesabaran untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya mampu ia lakukan.
Syukur yang Membebaskan dari Belenggu Penderitaan
Lalu bagaimana dengan mereka yang diberikan ujian berupa kesulitan, kehilangan, dan penderitaan?
Tentu mereka membutuhkan kesabaran. Namun, ada sesuatu yang membuat kesabaran itu tidak sekadar menjadi kemampuan bertahan dalam keadaan sulit, melainkan menjadi jalan menuju keberkahan. Sesuatu itu adalah syukur.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
Ayat ini sering kita pahami sebagai janji penambahan nikmat bagi orang yang bersyukur. Namun, nikmat tidak selalu harus dipahami dalam bentuk bertambahnya harta, kedudukan, atau kemudahan hidup. Ada nikmat yang jauh lebih dalam, yaitu bertambahnya kesadaran, ketenangan, kekuatan, dan kemampuan seseorang untuk menemukan makna di tengah keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Syukur bukan berarti seseorang harus berpura-pura bahagia ketika sedang terluka. Bukan pula berarti ia dilarang menangis ketika kehilangan atau tidak boleh mengeluhkan beratnya kehidupan. Kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan. Bahkan, para nabi pun pernah menangis, bersedih, dan mengadukan keadaan mereka kepada Allah.
Akan tetapi, syukur membuat seseorang tidak membiarkan penderitaannya mengambil seluruh ruang dalam kehidupannya. Ia masih mampu melihat sesuatu yang tersisa di balik sesuatu yang hilang. Ia masih mampu menemukan alasan untuk melanjutkan kehidupan di tengah keadaan yang belum membaik.
Dengan syukur, seseorang tidak harus menunggu seluruh penderitaannya selesai untuk kembali merasakan kebahagiaan.
Barangkali inilah salah satu keistimewaan syukur: ia tidak selalu mengubah keadaan, tetapi mampu mengubah cara seseorang menjalani keadaan tersebut.
Jebakan dalam Menilai Kehidupan Orang Lain
Sekarang mari kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Ada kecenderungan manusia menilai kehidupan orang lain hanya dari apa yang terlihat. Seseorang yang memiliki kekayaan, jabatan, kesehatan, dan kehidupan yang berkecukupan dianggap sedang berada dalam kebaikan. Sebaliknya, seseorang yang hidup dalam kemiskinan, kehilangan, dan berbagai kesulitan dianggap sedang berada dalam keburukan.
Secara umum, penilaian semacam itu dapat dimengerti. Tidak ada yang salah dengan menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang menyenangkan atau kemiskinan sebagai sesuatu yang menyulitkan.
Namun, jika kehidupan hanya dinilai sesederhana itu, kita sedang membuka ruang bagi sebuah tipuan besar.
Kita akan kehilangan kemampuan untuk melihat bagaimana seseorang menyikapi apa yang dimilikinya. Kita tidak lagi memperhatikan apakah orang yang kaya itu bersyukur atau justru menjadi sombong. Kita juga tidak lagi melihat apakah orang yang miskin itu tetap menjaga kehormatannya atau justru kehilangan harapan.
Padahal, persoalan sesungguhnya bukan semata-mata terletak pada apa yang diterima seseorang, tetapi pada bagaimana ia merespons pemberian dan keadaan tersebut.
Di sinilah sabar dan syukur menjadi kunci.
Seseorang yang mendapatkan kenikmatan membutuhkan kesabaran agar tidak terjebak dalam kesombongan dan kelalaian. Seseorang yang mendapatkan penderitaan membutuhkan syukur agar tidak terjebak dalam keputusasaan dan kebencian terhadap kehidupan.
Dengan demikian, keduanya bukanlah dua sikap yang saling berjauhan. Dalam sabar terdapat syukur, dan dalam syukur terdapat sabar.
Abu Lahab dan Bilal bin Rabah: Dua Kehidupan, Dua Kesudahan
Jika kita hidup pada masa Nabi Muhammad SAW, mungkin kita akan menyaksikan sebuah kontras kehidupan yang sangat menarik.
Lihatlah Abu Lahab, yang nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia berasal dari keluarga terpandang, memiliki kedudukan sosial, kekayaan, serta hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Jika kehidupan hanya dinilai melalui ukuran duniawi, ia memiliki banyak hal yang dianggap sebagai keunggulan.
Bandingkan dengan Bilal bin Rabah. Seorang mantan budak dari Habasyah yang mengalami penindasan dan penyiksaan karena mempertahankan keimanannya. Ia tidak memiliki kedudukan sosial seperti Abu Lahab. Bahkan, tubuhnya pernah ditindih batu besar di bawah terik matahari karena menolak meninggalkan Islam.
Keduanya memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Yang satu memiliki kemapanan dan kedudukan, sedangkan yang lain mengalami penindasan dan penderitaan.
Namun, sejarah mencatat kesudahan yang sangat berbeda.
Allah mengabadikan kecaman terhadap Abu Lahab dalam Surah Al-Masad. Sementara itu, Bilal bin Rabah dikenal sebagai salah seorang sahabat yang memperoleh kemuliaan besar di sisi Rasulullah SAW. Bahkan, dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah menyampaikan kepada Bilal bahwa beliau mendengar suara kedua sandalnya di surga.
Tentu, kita tidak sedang mengatakan bahwa kemiskinan menjadikan Bilal mulia atau kekayaan secara otomatis menjadikan Abu Lahab hina. Bukan pula berarti setiap orang yang menderita pasti mendapatkan kesudahan yang baik, sementara setiap orang yang berkecukupan pasti mendapatkan kesudahan yang buruk.
Justru kisah keduanya memperlihatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak dapat disederhanakan melalui keadaan lahiriahnya.
Abu Lahab memiliki banyak hal yang secara duniawi dianggap sebagai keunggulan, tetapi tidak menjadikannya dekat dengan Allah. Bilal mengalami penderitaan yang luar biasa, tetapi keimanannya menjadikannya mulia.
Maka, jika kita hanya mengukur kehidupan melalui kenikmatan dan penderitaan, betapa mudahnya kita terkecoh dalam menilai manusia.
Pada Akhirnya, Bukan Duri atau Isinya yang Menentukan
Kembali kepada durian di awal tulisan ini.
Kita mungkin terlalu sibuk memperhatikan duri-durinya, sampai lupa bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang begitu disukai. Namun, jangan pula karena menyukai isinya, kita menganggap duri-durinya tidak pernah ada.
Begitulah kehidupan. Ada orang yang harus melewati banyak duri sebelum menemukan kenikmatannya. Ada pula yang mendapatkan kenikmatan tanpa harus melalui penderitaan yang sama. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan yang berbeda-beda.
Tidak semua orang harus menderita untuk menjadi mulia. Tidak semua orang yang hidup berkecukupan kehilangan kesempatan untuk menjadi mulia. Sebagaimana tidak semua penderitaan otomatis melahirkan kemuliaan dan tidak semua kenikmatan berujung pada kehancuran.
Yang membedakan bukan semata-mata apa yang seseorang terima, melainkan bagaimana ia menyikapinya.
Sabar menjaga manusia agar tidak kehilangan kendali ketika berada dalam kenikmatan. Syukur menjaga manusia agar tidak kehilangan harapan ketika berada dalam penderitaan.
Mungkin inilah keseimbangan yang sering kali luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk meminta kehidupan yang menyenangkan, tetapi lupa mempersiapkan diri untuk mengendalikan kesenangan. Kita terlalu sibuk berdoa agar dijauhkan dari penderitaan, tetapi lupa mempersiapkan hati untuk tetap menemukan kebaikan ketika penderitaan datang.
Padahal, kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Terkadang ia memberikan sesuatu yang kita sukai, dan terkadang pula menghadirkan sesuatu yang ingin kita hindari.
Maka, jangan terlalu cepat merasa paling beruntung ketika mendapatkan kenikmatan. Jangan pula terlalu cepat merasa paling malang ketika mendapatkan penderitaan.
Sebab, yang paling menentukan bukanlah seberapa indah kehidupan yang sedang kita jalani, tetapi seberapa baik kita menjaga diri di dalamnya.
Nikmat membutuhkan sabar agar tidak berubah menjadi petaka. Penderitaan membutuhkan syukur agar tidak berubah menjadi keputusasaan.
Dan barangkali, kemuliaan hidup bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan kenikmatan atau siapa yang paling kuat menanggung penderitaan, melainkan siapa yang mampu menjaga dirinya tetap berada di jalan Allah dalam kedua keadaan tersebut.
*Duri yang menjaga nikmat*
Durian adalah salah satu buah yang menjadi favorit banyak orang. Rasanya digemari, aromanya khas, bahkan tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang cukup banyak untuk menikmatinya. Namun, ada sesuatu yang menarik dari buah ini. Sesuatu yang begitu disukai justru dibungkus oleh kulit yang dipenuhi duri-duri tajam dan keras. Untuk menikmati isinya, seseorang harus berhadapan terlebih dahulu dengan kulitnya.
Barangkali kehidupan juga memiliki kemiripan dengan itu. Banyak orang yang mencapai keberhasilan setelah melewati perjalanan panjang yang penuh lika-liku. Tidak sedikit pula orang yang mendapatkan kemuliaan setelah melewati penderitaan yang luar biasa. Bahkan, jika kita melihat sejarah para nabi dan rasul, kita akan menemukan bahwa banyak di antara mereka menjalani kehidupan yang jauh dari kata mudah. Ada yang kehilangan orang-orang tercinta, mengalami penolakan, dihina, diusir, bahkan menghadapi ancaman pembunuhan. Kemuliaan mereka tidak hadir dalam kehidupan yang selalu menyenangkan.
Namun, ada pula orang-orang yang memperoleh kemuliaan tanpa harus melewati penderitaan yang sama beratnya. Mereka diberikan kehidupan yang lapang, kesempatan yang luas, serta berbagai kemudahan. Mereka juga mampu mencapai kedudukan yang mulia di hadapan Allah.
Lantas, apa yang membuat orang-orang dengan latar belakang kehidupan yang begitu berbeda itu dapat mencapai kemuliaan?
Barangkali jawabannya bukan terletak pada seberapa berat penderitaan yang pernah dialami, ataupun seberapa banyak kenikmatan yang berhasil dimiliki. Ada satu hal yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana seseorang mengendalikan dirinya melalui kesabaran dan kesyukuran.
Sabar Bukan Hanya untuk Penderitaan
Selama ini, kita cenderung memahami sabar sebagai sikap bertahan ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ketika kehilangan, kita diminta bersabar. Ketika mengalami kesulitan, kita diminta bersabar. Ketika keinginan tidak tercapai, kita juga diminta bersabar.
Pemahaman itu benar, tetapi belum sepenuhnya utuh.
Sabar ternyata tidak hanya diperlukan ketika seseorang berada dalam kesedihan. Bahkan, ketika seseorang berada dalam kenikmatan, ia juga membutuhkan kesabaran.
Mengapa demikian?
Sebab, kenikmatan juga memiliki potensi untuk menjerumuskan seseorang. Kekayaan dapat membuat orang lupa diri. Kekuasaan dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain. Kedudukan dapat membuat seseorang kehilangan kerendahan hati. Bahkan, sesuatu yang awalnya menjadi anugerah dapat berubah menjadi sumber kehancuran ketika tidak mampu dikendalikan.
Di sinilah kesabaran menemukan maknanya yang lain. Sabar dalam kenikmatan adalah kemampuan menahan diri agar tidak berlebihan, tidak melampaui batas, dan tidak diperbudak oleh sesuatu yang sedang dinikmati.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran baik dan buruk tidak selalu sejalan dengan apa yang kita sukai atau tidak kita sukai. Sesuatu yang menyenangkan belum tentu membawa kebaikan, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan belum tentu mendatangkan keburukan.
Artinya, seseorang tidak cukup hanya mampu menikmati kehidupannya. Ia juga harus memiliki kendali atas apa yang dinikmatinya. Sebab, tidak semua yang menyenangkan harus diikuti, tidak semua yang dimiliki harus dihabiskan, dan tidak semua kesempatan harus dimanfaatkan tanpa batas.
Ada kalanya seseorang justru membutuhkan kesabaran untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya mampu ia lakukan.
Syukur yang Membebaskan dari Belenggu Penderitaan
Lalu bagaimana dengan mereka yang diberikan ujian berupa kesulitan, kehilangan, dan penderitaan?
Tentu mereka membutuhkan kesabaran. Namun, ada sesuatu yang membuat kesabaran itu tidak sekadar menjadi kemampuan bertahan dalam keadaan sulit, melainkan menjadi jalan menuju keberkahan. Sesuatu itu adalah syukur.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
Ayat ini sering kita pahami sebagai janji penambahan nikmat bagi orang yang bersyukur. Namun, nikmat tidak selalu harus dipahami dalam bentuk bertambahnya harta, kedudukan, atau kemudahan hidup. Ada nikmat yang jauh lebih dalam, yaitu bertambahnya kesadaran, ketenangan, kekuatan, dan kemampuan seseorang untuk menemukan makna di tengah keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Syukur bukan berarti seseorang harus berpura-pura bahagia ketika sedang terluka. Bukan pula berarti ia dilarang menangis ketika kehilangan atau tidak boleh mengeluhkan beratnya kehidupan. Kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan. Bahkan, para nabi pun pernah menangis, bersedih, dan mengadukan keadaan mereka kepada Allah.
Akan tetapi, syukur membuat seseorang tidak membiarkan penderitaannya mengambil seluruh ruang dalam kehidupannya. Ia masih mampu melihat sesuatu yang tersisa di balik sesuatu yang hilang. Ia masih mampu menemukan alasan untuk melanjutkan kehidupan di tengah keadaan yang belum membaik.
Dengan syukur, seseorang tidak harus menunggu seluruh penderitaannya selesai untuk kembali merasakan kebahagiaan.
Barangkali inilah salah satu keistimewaan syukur: ia tidak selalu mengubah keadaan, tetapi mampu mengubah cara seseorang menjalani keadaan tersebut.
Jebakan dalam Menilai Kehidupan Orang Lain
Sekarang mari kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Ada kecenderungan manusia menilai kehidupan orang lain hanya dari apa yang terlihat. Seseorang yang memiliki kekayaan, jabatan, kesehatan, dan kehidupan yang berkecukupan dianggap sedang berada dalam kebaikan. Sebaliknya, seseorang yang hidup dalam kemiskinan, kehilangan, dan berbagai kesulitan dianggap sedang berada dalam keburukan.
Secara umum, penilaian semacam itu dapat dimengerti. Tidak ada yang salah dengan menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang menyenangkan atau kemiskinan sebagai sesuatu yang menyulitkan.
Namun, jika kehidupan hanya dinilai sesederhana itu, kita sedang membuka ruang bagi sebuah tipuan besar.
Kita akan kehilangan kemampuan untuk melihat bagaimana seseorang menyikapi apa yang dimilikinya. Kita tidak lagi memperhatikan apakah orang yang kaya itu bersyukur atau justru menjadi sombong. Kita juga tidak lagi melihat apakah orang yang miskin itu tetap menjaga kehormatannya atau justru kehilangan harapan.
Padahal, persoalan sesungguhnya bukan semata-mata terletak pada apa yang diterima seseorang, tetapi pada bagaimana ia merespons pemberian dan keadaan tersebut.
Di sinilah sabar dan syukur menjadi kunci.
Seseorang yang mendapatkan kenikmatan membutuhkan kesabaran agar tidak terjebak dalam kesombongan dan kelalaian. Seseorang yang mendapatkan penderitaan membutuhkan syukur agar tidak terjebak dalam keputusasaan dan kebencian terhadap kehidupan.
Dengan demikian, keduanya bukanlah dua sikap yang saling berjauhan. Dalam sabar terdapat syukur, dan dalam syukur terdapat sabar.
Abu Lahab dan Bilal bin Rabah: Dua Kehidupan, Dua Kesudahan
Jika kita hidup pada masa Nabi Muhammad SAW, mungkin kita akan menyaksikan sebuah kontras kehidupan yang sangat menarik.
Lihatlah Abu Lahab, yang nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia berasal dari keluarga terpandang, memiliki kedudukan sosial, kekayaan, serta hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Jika kehidupan hanya dinilai melalui ukuran duniawi, ia memiliki banyak hal yang dianggap sebagai keunggulan.
Bandingkan dengan Bilal bin Rabah. Seorang mantan budak dari Habasyah yang mengalami penindasan dan penyiksaan karena mempertahankan keimanannya. Ia tidak memiliki kedudukan sosial seperti Abu Lahab. Bahkan, tubuhnya pernah ditindih batu besar di bawah terik matahari karena menolak meninggalkan Islam.
Keduanya memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Yang satu memiliki kemapanan dan kedudukan, sedangkan yang lain mengalami penindasan dan penderitaan.
Namun, sejarah mencatat kesudahan yang sangat berbeda.
Allah mengabadikan kecaman terhadap Abu Lahab dalam Surah Al-Masad. Sementara itu, Bilal bin Rabah dikenal sebagai salah seorang sahabat yang memperoleh kemuliaan besar di sisi Rasulullah SAW. Bahkan, dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah menyampaikan kepada Bilal bahwa beliau mendengar suara kedua sandalnya di surga.
Tentu, kita tidak sedang mengatakan bahwa kemiskinan menjadikan Bilal mulia atau kekayaan secara otomatis menjadikan Abu Lahab hina. Bukan pula berarti setiap orang yang menderita pasti mendapatkan kesudahan yang baik, sementara setiap orang yang berkecukupan pasti mendapatkan kesudahan yang buruk.
Justru kisah keduanya memperlihatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak dapat disederhanakan melalui keadaan lahiriahnya.
Abu Lahab memiliki banyak hal yang secara duniawi dianggap sebagai keunggulan, tetapi tidak menjadikannya dekat dengan Allah. Bilal mengalami penderitaan yang luar biasa, tetapi keimanannya menjadikannya mulia.
Maka, jika kita hanya mengukur kehidupan melalui kenikmatan dan penderitaan, betapa mudahnya kita terkecoh dalam menilai manusia.
Pada Akhirnya, Bukan Duri atau Isinya yang Menentukan
Kembali kepada durian di awal tulisan ini.
Kita mungkin terlalu sibuk memperhatikan duri-durinya, sampai lupa bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang begitu disukai. Namun, jangan pula karena menyukai isinya, kita menganggap duri-durinya tidak pernah ada.
Begitulah kehidupan. Ada orang yang harus melewati banyak duri sebelum menemukan kenikmatannya. Ada pula yang mendapatkan kenikmatan tanpa harus melalui penderitaan yang sama. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan yang berbeda-beda.
Tidak semua orang harus menderita untuk menjadi mulia. Tidak semua orang yang hidup berkecukupan kehilangan kesempatan untuk menjadi mulia. Sebagaimana tidak semua penderitaan otomatis melahirkan kemuliaan dan tidak semua kenikmatan berujung pada kehancuran.
Yang membedakan bukan semata-mata apa yang seseorang terima, melainkan bagaimana ia menyikapinya.
Sabar menjaga manusia agar tidak kehilangan kendali ketika berada dalam kenikmatan. Syukur menjaga manusia agar tidak kehilangan harapan ketika berada dalam penderitaan.
Mungkin inilah keseimbangan yang sering kali luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk meminta kehidupan yang menyenangkan, tetapi lupa mempersiapkan diri untuk mengendalikan kesenangan. Kita terlalu sibuk berdoa agar dijauhkan dari penderitaan, tetapi lupa mempersiapkan hati untuk tetap menemukan kebaikan ketika penderitaan datang.
Padahal, kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Terkadang ia memberikan sesuatu yang kita sukai, dan terkadang pula menghadirkan sesuatu yang ingin kita hindari.
Maka, jangan terlalu cepat merasa paling beruntung ketika mendapatkan kenikmatan. Jangan pula terlalu cepat merasa paling malang ketika mendapatkan penderitaan.
Sebab, yang paling menentukan bukanlah seberapa indah kehidupan yang sedang kita jalani, tetapi seberapa baik kita menjaga diri di dalamnya.
Nikmat membutuhkan sabar agar tidak berubah menjadi petaka. Penderitaan membutuhkan syukur agar tidak berubah menjadi keputusasaan.
Dan barangkali, kemuliaan hidup bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan kenikmatan atau siapa yang paling kuat menanggung penderitaan, melainkan siapa yang mampu menjaga dirinya tetap berada di jalan Allah dalam kedua keadaan tersebut.