Perang Dan Penjajahan Tak Pernah Benar-Benar Usai, Ia Hanya Berganti Wajah

Perang Dan Penjajahan Tak Pernah Benar-Benar Usai, Ia Hanya Berganti Wajah

Oleh Muhammad Irhash Fakhruddin, M. Ag

Hidup memang kompetisi. Di dalam kompetisi ada pertarungan. Dalam pertarungan ada yang mendominasi dan ada yang didominasi; ada yang merdeka dan ada yang terjajah. Medannya berubah, senjatanya berubah, bentuknya berubah. Tetapi perjuangan harus selalu ada.

Karena itu, perjuangan tidak boleh berhenti.

Namun ada satu persoalan yang jauh lebih penting:

Apa yang sebenarnya harus diperjuangkan?

Sebab tidak setiap perjuangan adalah kebenaran. Tidak setiap perlawanan adalah kemuliaan. Dan tidak setiap kemenangan berarti manusia telah berada di jalan yang benar.

Maka perjuangan membutuhkan pegangan. Membutuhkan dasar pijakan. Sesuatu yang membuat manusia tahu ke mana ia harus berjalan dan untuk apa ia menggunakan hidupnya.

Saya menyebutnya sederhana:

nilai ketuhanan.

Bukan untuk menjadi Tuhan. Justru sebaliknya, agar manusia kembali menjadi hamba Tuhan, sesuai dengan kodrat yang telah ditetapkan Tuhan kepadanya.

Sebab tanpa nilai ketuhanan, perjuangan mudah berubah menjadi perjuangan ego.

Manusia berjuang bukan lagi karena kebenaran, tetapi karena ingin menang. Bukan karena ingin menghadirkan kebaikan, tetapi karena ingin menguasai. Bukan karena ingin membebaskan, tetapi karena ingin menggantikan posisi yang dahulu menindasnya.

Pada titik itu, kemenangan bisa saja diraih.

Tetapi kemenangan tersebut justru dapat menjadi awal dari kehancuran.

Karena itu, yang harus diperjuangkan bukan hanya kebebasan dari penjajahan, tetapi juga kebebasan manusia dari kesombongan dirinya sendiri.

Bukan hanya mengganti siapa yang berkuasa, tetapi mengembalikan nilai tentang bagaimana manusia seharusnya hidup.

Nilai ketuhanan inilah yang harus kita kembalikan melalui perjuangan. Dan nilai itu pula yang harus selalu diperjuangkan.

Maka berjuanglah.

Tetapi jangan kehilangan Tuhan dalam perjuangan.

Jangan sampai perjuangan membuat manusia merasa menjadi pusat dari segala sesuatu.

Sebab semakin tinggi manusia berdiri, semakin ia harus menyadari bahwa dirinya tetap seorang hamba.

Mereka yang hari ini kita kenal sebagai pahlawan, pada zamannya juga hanyalah manusia biasa.

Tidak selalu terkenal.
Tidak selalu dianggap istimewa.
Tidak selalu melihat hasil perjuangannya sendiri.

Tetapi mereka memiliki batang perjuangan.

Mereka menanam sesuatu yang mungkin tidak sempat mereka nikmati buahnya.

Dan terkadang, buah perjuangan yang paling manis justru tumbuh setelah seseorang berpulang—ketika generasi berikutnya dapat hidup lebih baik karena sesuatu yang dahulu ia perjuangkan.

Mungkin itulah salah satu makna kehidupan:

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan, tetapi tentang apa yang kita perjuangkan, nilai apa yang kita tegakkan, dan warisan apa yang kita tinggalkan.

Kita mungkin biasa saja hari ini.

Tetapi jangan sampai hidup kita berlalu tanpa perjuangan.

Dan jangan pula perjuangan kita berjalan tanpa nilai ketuhanan.

Teguhlah pada nilai ketuhanan.
Berjuanglah untuk mengembalikannya.
Tanamlah batang perjuangan itu.
Biarkan generasi setelahnya menikmati buahnya, dan yang paling penting, melanjutkan perjuangan itu sendiri.

Karena perjuangan yang sejati bukanlah tentang menjadikan manusia lebih tinggi dari manusia lainnya.

Tetapi tentang mengembalikan manusia kepada kodratnya:

menjadi manusia yang tahu bahwa dirinya adalah hamba Tuhan.

Itulah perjuangan yang melampaui usia.

Itulah kehidupan yang
meninggalkan makna.Writer:

Penyiar TVRI Sumbar dan Dosen STAI Pengembangan Ilmu Quran SUMATERA BARAT