Musibah Silih Berganti Ada Apa Gerangan Terjadi?

Musibah Silih Berganti Ada Apa Gerangan Terjadi?

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*

Beberapa bulan terakhir hampir di semua daerah di Indonesia mengalami musibah, mulai dari banjir bandang di Nangroe Aceh Darussalam, yang menewaskan 277 0rang, 193 orang hilang, 1,5 juta orang penduduk terdampak di berbagai Kabupaten/Kota.

Bahkan ribuan rumah warga rusak berat, hilang dibawa arus dan tertimbun lumpur. Begitu juga dengan insfra struktur jalan dan jembatan yang rusak berat. Diperkirakan kerugian di Provinsi Aceh mencapai Rp. 2,2 triliun.

Belum lagi di Sumatera Utara, kerugian mencapaiRp. 5,4 triliun, yang mencakup kerusakan fasilitas umum, perkantoran, pasar dan infra struktur daerah serta areal persawahan dan perkebunan.
Sedangkan di Sumatera Barat, kerugian mencapai Rp. 33,5 triliun, dengan rincian kerusakan fisik Rp. 15,63 triliun, total kerugian ekonomi akibat lumpuhmya aktivitas warga dan sektor usaha, dan kejadian terbaru di Kabupaten Solok tepatnya di Arosuka, Senin, 21 September 2026 yang merusak Kantor Dinas PUPR dan DInas Kesehatan, melumpuhkan jalan Padang – Solok, merenggut korban jiwa dan mengakibatkan ratusan orang mengungsi.

Peristiwa gempa di NTT 15 Agustus 2026 lalu yang menewaskan 142 orang penduduk, luka-luka 1603 orang, warga masih mengungsi 46.461 orang. Rumah ang rusak 103.427 unit ( berat, sedang dan ringan ), fasilitas umum yangrusak 712 sekolah, 558 rumah ibadah dan 157 fasilitas kesehatan, menelan kerugian Rp. 2,2 triliun.

Apa faktor penyebab musibah banjir bandang?

Menurut BPBD penyebab banjir disebabkan curah hujan tinggi yang tidak mampu diserap oleh tanah dan tidak bisa ditampung oleh saluran air. Secara garis besar faktor penyebabnya ada dua :
1. Faktor alam, meliputi curah hujan tinggi, topografi rendah dan pasang air laut.
2. Faktor manusia, membuang sampah sembarangan, alih fungsi lahan, penebangan hutan liar dan bangunan di bantaran sungai.

Dengan demikian jelaslah faktor pemicu banjir bandang yang akan menimbulkan musibah, merugikan berbagai pihak, termasuk manusia itu sendiri yang memiliki dwi fungsi. Baik sebagai pemicu terjadi banjir bandang, galodo musibah, mau pun sebagai penanggung akibat dari perbuatan manusia yang tidak melakukan manajemen keseimbangan.

Bagaimana hubungan manusia dengan alam menurut Al-Quran.

Hubungan manusia dengan alam sekitarnya menurut Al-Quran, sangat dekat sekali digambarkan bagaikan hubungan pengertian dan persahabatan. Karena keduanya sama-sama makhluk Allah SWT dan keduanya dipastikan tunduk kepada perintah Allah SWT.

“ Wa lillaahi yasjudu man fis-samaawaati wal ardhi thau-’aw wa karhaw wa zhilaaluhum bil ghuduw-wi wal aashaali “

Artinya : “ Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit mau pun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa ( dan sujud pula ) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang “. ( Q.S.13.15 ).

Dalam ayat di atas Allah SWT menjelaskan kepada umat manusia, bahwa apa pun makhluk yang ad di dunia pada dasarnya bersujud dan takluk kepada Allah SWT. Apakah ketaklukan, ketakutan kepada-Nya dengan sukarela, pasrah mau pun dengan secara terpaksa. Karena semua makhluk yang ada mengakui keberadaan Allah SWT sebagai pencipta yang ada.

Hubungan persahabatan antara manusia dengan alam sekitarnya digambarka oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupannya sehari-hari, dengan jalan memberi nama-nama yang dimilikinya. Seperti : gelas, pedang, unta, kuda, pelana, cermin yang dimanfaatkannya sehari-hari dengan panggilan khusus. Seolah-olah benda-benda dan makhluk hidup yang sehari-hari akrab dengan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW mempunyai persahabatan dan memiliki personaliti tersendiri.

Justeru itu, hubungan persahabatan umat manusia dengan alam sekitarnya harus diperkuat dan diperketat, agar kehidupan alam dan manusia berjalan dengan penuh keseimbangan.

Bagamana pun persahabatan manusia dengan alam harus selalu terjaga dan dijaga dengan baik, supaya alam beserta potensi yang dimilikinya tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Sehingga hubungan persahabatan antara alam dan manusia berjalan dengan baik.

Bagaimana pun potensi yang dimiliki oleh alam terlihat banyak dan tak terperkirakan oleh manusia, namun suatu saat potensi yang terkandung dalam alam akan bisa berkurang; bahkan bisa habis jika hubungan persahabatan manusia tidak terpelihara dengan baik. Sebab, pada hakikatnya potensi kekayaan alam atau bumi ini terbatas juga, bila dibandingkan dengan manusia yang terus bertambah jumlahnya.

Dengan demikian hubungan manusia dengan alam, bumi Allah ini adalah hubungan bersahabat, sehingga kita manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memeliharanya kekayaan alam ini, agar tidak tidak cepat punah dan habis.

Manusia Sebagai Khalifah Pemelihara Bumi.

Mengingat semakin membahananya isu dunia tentang kerusakan lingkungan dengan segala aspek yang berhubungan dengan alam dan bumi yang di tempati umat manusia. Seperti perubahan cuaca, pemanasan global dan lain sebagainya, membuat para ilmuwan berusaha keras, agar sesegeranya menemukan cara, formulasi yang tepat, untuk mendapatkan solusi dalam menekan dampak kerusakan lingkungan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Di sisi lain yang perlu disadari bahwa manusia sebagai khalifah, yang diberikan amanah oleh Allah SWT sebagai penanggung jawab, perpanjangan tangan Allah SWT di muka bumi sangat perlu mendapatkan perhatian khusus. Agar manusia yang memiliki perilaku ingin menguasai, memanfaatkan potensi dan kekayaan alam, baik yang terkandung dalam perut bumi, mau pun di atas permukaan bumi dengan sebanyak-banyaknya.

Sehubungan dengan hal ini ada dua perilaku manusia yang perlu mendapatkan perhatian khusus, dalam menciptakan keseimbangan. Pertama, perilaku antroposentrik, yaitu sikap yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta. Yaitu suatu sikap yang dimiliki oleh manusia untuk menguasai, sifat rakus dan hedonis terhadap dunia yang membawa dampak buruk terhadap alam semesta.
Kedua, perilaku antropocosmik, yaitu suatu sikap yang harus dikembangkan oleh manusia, bahwa manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam; tegasnya manusia adalah bagian dari alam itu sendiri.

Dengan demikian manusia harus menyadari perannya sebagai khalifah, sebagai makhluk yang diberikan wewenang oleh Allah SWT untuk memanfaatkan, memakmurkan, memelihara dan melestarikan bumi. Bagaimana pun fungsi kekhalifahan, kepemimpinan manusia di permukaan bumi harus terwujud dan mampu menjaga keselarasan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Meski pun pada dasarnya penciptaan alam semesta oleh Allah SWT adalah untuk manusia, bukan berarti manusia diberikan kebebasan seluas-luasnya; dibiarkan semena-mena dalam memperlakukan alam semesta, sesuai dengan kehendak hawa nafsunya,

sehingga merusak keseimbangan alam.
Setidaknya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian utama bagi manusia dalam berinteraksi dengan alam, yang merupakan rambu-rambu wajib yang perlu dipatuhi oleh manusia sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Yaitu berdasarkan nilai tauhid, amanah, islah, rahmah, ‘adalah, iqtisad, ri’ayah, hirasah, hafazah, dan nilai-nilai Islami lainnya, yang wajib melekat pada diri manusia dalam berhubungan dengan alam sekitarnya.

Berdasarkan nilai-nilai tauhid, mengesakan Allah SWT dalam semua lini kehidupan dan tindak tanduk bagi seorang muslim beriman tidak bisa ditawar-tawar, karena orang yang beriman memiliki keyakinan, bahwa apa pun yang dilakukan adalah dalam rangka beribadah dan mengabdikan diri kepada-Nya.

Berangkat dengan nilai-nilai tauhid, mengesakan Allah SWT maka dikembangkanlah berbagai aktivitas dengan bersikap amanah, bertanggung jawab, melakukan islah, perbaikan.

Melakukan aktivitas dengan rahmah, penuh kasih sayang, melakukan ‘adalah atau keseimbangan, kesetaraan. Juga dengan bersikap iqtisad, kesederhanaan, melakukan ri’ayah, pemeliharaan, pengawasan, dan hirasah yaitu penjagaan dan pengawalan yang ketat, serta hafazah yang berarti melindungi, mengevaluasi, memiliki catatan dan administrasi yang lengkap.
Begitulah cara kerja seorang muslim beriman jika melakukan interaksi dengan alam sekitarnya, terutama dalam memanfaatkan bumi beserta isinya.

Tetap dalam kerangka beribadah kepada Allah SWT dengan selalu menjaga dan menerapkan nilai-nilai ketauhidan, mengesakan Allah SWT melalui praktik akhlakul karimah, dengan memperlakukan alam semesta menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan diri manusia itu sendiri.

Justeru itu, tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi manusia adalah pemegang amanah, tanggung jawab untuk memanfaat, memelihara, mengembangkan, memakmurkan dan melestarikan alam semesta.
Apabila tugas kekhalifahan, kepemimpinan telah terlaksana dengan baik, maka akan terciptalah keseimbangan. Dipastikan persahabatan dengan alam pun akan terwujud dengan sendirinya, tidak akan terjadi apa yang dikatakan alam murka kepada manusia.

Alam tidak akan marah kepada manusia dengan mengeluarkan banjir, menyemburkan gas panas, angin kencang mau pun kemarau panjang dan lain sebagainya.
Dengan sendirinya apa yang disinyalir oleh Allah SWT dalam Al-Quran tidak akan terjadi, apabila manusia mampu menjaga, memelihara dan memanfaatkan serta memfungsikan kekhalifahan dan kepemimpinannya dengan baik dan maksimal.

“ Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aydinnaasi liyudziiqahum bakdhalladziiy ‘amiluu la’allahum yarji’uuna “

Artinya : “ Telah tampak kerusakan di darat dn di laut disebabkan karena perbuatan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari ( akibat ) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar ).” ( Q.S.30.41 ).

Pentingnya menjaga dan melestarikan alam lingkungan.

1. Ketergantungan manusia terhadap alam.
Sudah merupakan sebuah kewajiban bagi manusia untuk selalu menjaga dan melestarikan alam dan ingkungannya.

Karena pemeliharaan lingkungan sejatinya bukanlah untuk kepentingan manusia belaka, tetapi juga sangat tergantung kepada makhluk Allah lainnya. Bagaimana pun dalam kehidupan di dunia ini, tidak seorang pun bisa melepaskan dirinya dari ketergantungan.
Al-Quran dan hadis mengisyaratkan bahwa manusia adalah bagian dari alam tersebut.

“ Iqra’ bismi rabbikal ladziy khalaqa khalaqal insaana min ‘alaqin iqra’ wa rabbukal akramu “.

Artinya : “ Bacalah dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.” ( Q.S.96.1-3 ).

Ayat pertama sekali turun ini memerintahkan membaca, membaca dengan menyebut nama Rabb yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah yng tergantung. Firman Allah SWT ini menjelaskan ketergantungan manusia dengan lainnya.

Perintah membaca itu adalah mengisyaratkan ketergantungan manusia untuk mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Manusia dari awal penciptaan telah menggantungkan dirinya pada satu sama lainnya.
2. Segala sesuatu diciptakan Allah SWT seimbang,
Justeru itulah perlunya keseimbangan dijaga, dipelihara dan diciptakan, sebagaimana firman Allah SWT.

“ Al-ladziy khalaqaka fasaw-waaka fa’adalaka “ artinya : “ Yang telah menciptakan lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan ( susuna tubuh ) mu seimbang.” ( Q.S.82.7 ).

“ Wal ardha madadnaahaa wa alqainaahaa fiihaa rawaasiya wa anbatnaa fiihaa minkulli syai-in mawzuunin “.

Artinya : “ Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gununu-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran “. ( Q.S.15.19 ).

Berdasarkan firman Allah SWT di atas sudah merupakan sebuah keniscayaan bagi manusia untuk berupaya memelihara dan menjaga keseimbangan penciptaan alam semesta. Alangkah besar dosanya bagi mereka yang semena-mena terhadap alam dan lingkungan, sehingga merusak dan berdampak negatif terhadap keberadaan makhluk lainnya, bahkan membawa musibah petaka terhadap manusia dan alam sekitarnya.
3. Segala yang ada di alam untuk kepentingan manusia.
Allah SWT sangat sayang dan sangat peduli kepada manusia, apa pun yang ada di alam semesta ini, pada umumnya adalah untuk kepentingan manusia.

“ Huwal ladziy khalaqa lakum maa fil ardhi jamii’an tsummas tawaa ilas-samaa-i fasawwaa hunna sab’a samaawaatin wa huwa bikulli syai-in ‘aliimun “

Artinya : “ Dialah ( Allah ) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakan menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( Q.S.2.29 ).

4. Alam sebagai sumber rezeki.
Sebagaimana diketahui dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari betapa sungguh bermanfaat keberadaan alam semesta bagi umat manusia dan makhluk lainnya. Terutama bagi manusia alam semesta adalah sumber rezeki, sumber kehidupan. Sebutlah mulai dari air, udara, tanah untuk bercocok tanam, tumbuh-tumbuhan dan aneka binatang ternak pada dasarnya diciptakan Allah SWT adalah untuk umat manusia. Termasuk juga apa yang ada di perut bumi, laut, sungai dan pegunungan adalah manusia.

“ Qul may yarzuqukum minas-samaa-i wal ardhi ammay-yamlikus sam-’a wal abshaara wa may-yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijul mayyita minal hayyi wa may-yudabbirul amra fasayaquu luunallaahu. faqul afalaa tattaquuna “.

Artinya : “ Katakanlah ( Muhammad ), “ Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa ( menciptakan ) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur urusan? “ Maka mereka akan menjawab, “ Allah “. Maka katakanlah, “ Mengapa kamu tidak bertakwa ( kepada-Nya )?”. ( Q.S.10.31 ).

“ Allaahul-ladziy khalaqas samaawaati wal ardha wa anzala minas samaa-i maa-an fa akhraja bihii minats-tsamaraati rizqal-lakum wa sakh-khara lakumul fulka litajriya fil bahri bi amrihii wa sakh-khara lakumul anhaara “.

Artinya : “ Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air ( hujan ) dari langit, kemudian dengan ( air hujan ) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu “. ( Q.S.14.32 ).

Kenapa musibah datang silih berganti?

Kata musibah dalam Al-Quran terdapat 10 kali, yang berarti mengenai atau menimpa. Boleh jadi yang mengenai itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Tetapi Al-Quran dalam menggunakan kata mushibah maka itu berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia.
Pada lazimnya kata mushibah biasanya beriringan dengan kata “ bala “ seperti dalam firman Allah SWT ini.

: “ Wa lanabluwannakum bi syai-im-minal khaufi wal juu-’i wa naqshim-minal amwaali wal anfusi wats-tsamaraati wa basy-syirish-shaabiriina “.

Artinya : “ Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. ( Q.S.2.155 ).

Al-Quran menginformasikan kepada umat manusia bahwa musibah itu datangnya disebabkan oleh beberapa faktor, sebagai berikut :
1. Musibah terjadi disebabkan oleh perilaku manusia yang melakukan dosa dan kemaksiatan.

“ Wa maa ashaabakum mim-mushiibatin fabimaa kasabat aydiikum wa ya’fuu ‘an katsiirin “

Artinya : “ Dan apa pun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar ( dari kesalahan-kesalahanmu ). ( Q.S.42.30 ).

“ Maa ashaabaka min hasanatin faminallaahi wa maa ashaabaka min sayyi-atin fa min nafsika “

Artinya : “ Apa saja nikmat yang engkau peroleh adalah dari Allah, dan apa sja musibah yang menimpamu , maka dari ( kesalahan ) dirimu sendiri.” ( Q.S.4.79 ).

Berdasarkan ayat di atas sangat jelaslah, bahwa musibah atau sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia, adalah disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Boleh jadi karena faktor kesengajaan, kelalaian atau karena keterbatasan yang dimilikinya.

Sedangkan nikmat, kebaikan yang kita terima itu adalah anugerah Allah SWT. Meski pun demikian Allah SWT memiliki sifat pemaaf dan pengampun, justeru itu sebaik-baik mereka yang bersalah adalah mereka yang menyadari, menyesali kesalahannya dan mohon ampunan, maghfirah Allah SWT.
2. Musibah tidak terjadi, kecuali atas izin Allah SWT.
Bagaimana pun juga terjadinya suatu musibah, tidak akan terlepas dari izin Allah SWT meski pun seseorang sudah berupaya maskimal dan sangat berhati-hati agar terjauh dari musibah, namun atas izin Allah SWT seseorang mendapatkan musibah juga.

“ Maa ashaaba mim-mushiibatin illaa bi idznillaahi wa may-yukmin billaahi yahdi qalbahu, wallaahu bikulli syai-in ‘aliimun “.

Artinya : “ Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “. ( Q.S.64.11 ).

Ayat di atas juga memberikan penjelasan bagi mereka yang mendapat musibah dan tetap beriman kepada Allah SWT, niscaya diberikan hidayah, petunjuk oleh Allah SWT.

“ Ulaa-ika ‘alaihim shalawaatum-mirrabihim wa rahmatun wa ulaa-ika humul muhtaduuna “.

Artinya : “ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Q.S.2.157 ).
3. Musibah bertujuan untuk menempa manusia.
Allah SWT dalam memberikan sesuatu ujian dan cobaan kepada hamba-Nya, bukanlah karena benci oleh sebab perangai dan tinmdak lakunya. Akan tetapi Allah SWT mendatangkan sebuah musibah untuk menguji, menempa dan membina hamba-Nya untuk mampu menyikapi musibah dengan baik, dengan husnuzh-zhan, berbaik sangka; jangan sampai berputus asa tatkala diuji.

“ Maa ashaaba mim-mushiibatin fil ardhi wa laa fiy anfusikum illaa fiy kitaabin min qabli an nabra-ahaa inna dzalika ‘alallaahi yasiirun. Likaylaa taksaw ‘alaa maa faatakum wa laa tafrahuu bimaa aa-taakum, wallaahu laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurin “.

Artinya : “ Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan ( tidak pula ) pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( Lauh Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya.

Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alla. ( Kami jelaskan yang demikian itu ) supaya kamu jangan terlalu berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” ( Q.S.57.22-23 .

Demikianlah Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya dalam Al-Quran terjadinya musibah silih berganti itu disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Sudah merupakan sunnatullah, ketentuan Allah SWT yang telah termaktub di Lauh Mahfuzh.
2. Terjadinya musibah disebabkan terganggunya sistem geologi, munculnya ketidakseimbangan alam dan lingkungan disebabkan perilaku manusia yang diluar batas kewajaran. Sehingga merusak ekosistem yang telah mapah diciptakan oleh Allah SWT.

Sementara sebagian manusia dengan sifat yang ingin menguasai dan menurutkan kemauan hedonisnya, mereka berbuat kerusakan, melakukan perbuatan diluar batas. Seperti : penebangan hutan secara besar-besaran, mengeksploitasi sumber daya alam sejadi-jadinya, tanpa memikirkan dampak dari perbuatannya.
3. Musibah yang terjadi itu adalah atas izin Allah SWT.

Setiap musibah yang terjadi pada diri seseorang, mau pun pada bumi mana pun semuanya itu atas izin Allah SWT. Meski pun tidak seorang manusia menginginkan mendapat musibah, tetapi semuanya itu sudah diatur oleh Allah SWT.

Dalam hal ini boleh jadi Allah SWT ingin menguji hamba-Nya, apakah mereka bisa menyikapi musibah itu dengan baik, penuh kesabaran, dengan berbaik sangka, husnuzh-zhan, postif thinking kepada Allah SWT atau malah sebaliknya berburuk sangka dan putus asa atas rahmat Allah yang maha luas, wallaahu a’lam bish-shawaab.

Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan , pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*