Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S,Ag, MA.*
Al-Quran bagi umat Islam khususnya dan buat umat manusia pada umumnya adalah petunjuk, kitab suci yang dijadikan pedoman, tuntunan dalam menghadapi hidup dan kehidupan yang beragam, penuh tantangan, ujian menuju ke jalan yang benar, ke jalan yang diridhai Allah SWT, agar umat manusia menikmati kehidupan yang sa’aadah fid-daraini, yaitu kebahagian dan kesejahteraan di dunia dan di diakhirat.
Al-quran yang isi kandungannya memuat segala hal yang dibutuhkan oleh umat manusia, mulai dari pembinaan aqidah, syariah, akhlak, mu’amalah, janji wa’ad dan wa’id, penjelasan tentang bagaimana mencapai kebahagian di dunia dan akhirat serta memuat kisah-kisah umat yang terdahulu.
Allah Swt telah menciptakan tujuh lapis langit, menghamparkan bumi bagaikan tikar permadani, gunung gemunung yang berdiri kokoh bagaikan paku besar yang ditancapkan sebagai pasak bumi oleh Allah SWT, begitu juga diciptakan-Nya sungai dan lautan yang tak terbilang panjang dan luasnya.
Semua apa saja yang diciptakan Allah SWT baik yang berada di permukaan bumi, berupa binatang ternak, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Dalam perut bumi, tersedia bermacam ragam sumber daya alam, mulai dari emas, perak, tembaga, nikel, boksit, panas bumi, bahan bakar minyak dan lainnya.
Begitu juga yang terkandung dalam lautan samudera, berupa aneka ikan, beragam spesis binatang dan tumbuhan laut yang tidak terpekirakan macam ragam dan jumlahnya oleh manusia. Sementara itu, di sepanjang hiliran sungai dipenuhi oleh ikan yang beragam jenisnya dan kaya pula dengan barang tambang. Termasuklah benda-benda angkasa raya atau antariksa beserta planet lainnya itu, adalah anugerah Allah SWT untuk umat manusia yang tidak terhitung nilainya.
Semuanya itu adalah anugerah-Nya, fasilitas yang telah disediakan oleh Allah SWT di atas dunia ini, pada dasarnya adalah untuk umat manusia, tidak satu pun untuk tumbuh-tumbuhan. Kita umat manusialah yang diberikan amanah dan kepercayaan oleh Allah SWT untuk memanfaatkan, memelihara dan melestarikan alam sekitarnya.
Manusia Sebagai Penerima Amanat.
Pada awalnya Allah SWT menawarkan kepada langit, bumi dan gunung untuk menerima amanah dalam mengelola, memanfaatkan, memelihara fasilitas yang telah disediakan Allah SWT, namun semuanya mengelak dan tidak mau menerima amanah ini.
Akhirnya, manusialah yang dipercaya Allah SWT untuk mengemban amanah berat ini; meski pun di satu sisi manusia terlalu ceroboh untuk menerima amanah, namun di sisi lain di antara makhluk ciptaan Allah SWT yang ada, manusialah yang memungkinkan untuk diberikan amanat yang besar oleh Allah SWT. Karena manusia adalah makhluk Allah SWT yang terbaik, termulia dan memiliki aneka potensi, yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Allah SWT lainnya.
“ Innaa ‘aradhnaal amaanata ‘alas samaawaati wal ardhi wal jibaali fa abaina ayyahmilnahaa wa asyfaqna minhaa wa hamalahal insaanu, innahu kaana zhaluuman jahuulan “
Artinya : “ Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya ( berat ), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh “. ( Q.S.33.72 ).
“ Laqad khalaqnal insaana fiy ahsani taqwiimin, tsumma radadnaahu asfala saafiliina “
Artinya : “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya “. ( Q.S.95.4-5 ).
Keberadaan manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah SWT sangat beralasan sekali, karena diciptakan dan direkayasa Allah SWT dalam penciptan yang istimewa dan sempurna. Baik dilihat dari postur tubuh dengan tata letaknya yang seimbang, susunan bentuk wajah yang tampan, cantik dan menarik. Dilengkapi pula dengan adanya hati dan akal pikiran sebagai penyeimbang, antara pemikiran yang rasional dan perasaan, hati yang selalu bolak balik, yang akan dinetralisir dan dinormalisasi oleh keberadaan iman dan takwa yang dianugerahi oleh Allah SWT.
Allah SWT ketika menciptakan manusia pertama Nabi Adam AS dan langsung dinobatkan sebagai khalifah, yang bertugas untuk mengemban amanah, memimpin, mengelola, memanfaatkan, memelihara dan melestarikan bumi beserta isinya.
“ Wa idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati inniy jaa-’ilun fil ardhi khaliifatan, qaaluu ataj’aluu fiihaa may-yufsiduu fiihaa wa yasfikud-dimaa-a. Wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisulaka, qaala inniy a’lamu maa laa taklamuuna “.
Artinya : “ Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “ Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi “. Mereka berkata : “ Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “ Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui “. ( Q.S.2.30 ).
Prof. Quraish Shihab dalam mengomentaari kata “ khalifah “ yang berarti menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Khalifah diartikan yang “ menggantikan Allah “ dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-Nya.
Sedangkan arti kekhalifahan ada tiga unsur dalam Al-Quran, yaitu ; (1). Manusia ( sendiri ) yang dinamai khalifah; (2). Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat ke-22 Surah Al-Baqarah sebagai bumi; (3). Hubungan manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia ( istikhlaf atau tugas-tugas kekhilafahan ).
Selanjutnya hubungan dengan alam khalifah dan mustakhlif adalah hubungan sebagai pemelihara yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka tugas manusia adalah memelihara dan memakmurkan alam ini. Orang beriman dan beramal saleh, yang melakukan perbaikan dijanjikan akan dapat menguasai dunia ini.”
Masya Allah wa tabarakallah, mumtaz dan amazing sekali, betapa kasih sayangnya Allah SWT kepada umat manusia, apa pun yang diciptakan-Nya baik yang ada di langit mau pun di bumi semuanya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kemaslahatan umat manusia. Sebagaimana terlihat dalam firman Allah SWT di bawah ini :
“ Wa sakh-khara lakum maa fis samaawaati wa maa fil ardhi jamii-’am minhu, inna fiy dzaalika la-aayaatil liqaumiy yatafakkaruuna “’
“ Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan dibumi untukmu semuanya ( sebagai rahmat ) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda ( kebesaran Allah ) bagi orang-orang yang berpikir. “ ( Q.S.45.13 ).
“ Wal khaila wal bighaala wal hamiira litarkabuuhaa waziinatan wa yakhluqu maa laa taklamuuna.”
Artinya : “ Dan ( Dia telah menciptakan ) kuda, bagal dan keledai, untuk kamu tunggangi dan ( menjadi ) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” ( Q.S.16.8 ).
Namun perlu diperhatikan dalam memanfaatkan alam semesta, seperti : tumbuh-tumbuhan, pepohonan, binatang ternak, perikanan laut dan air tawar, termasuk apa yang ada di laut dan dasar laut, berada dalam tanggung jawab manusia.
Tegasnya, semua potensi alam yang ada di bumi dan perut bumi ini, tugas dan tanggung jawab pemeliharaannya berada di pundak manusia sebagai khalifah Allah, wakil Allah atau perpanjangan kekuasaan Allah SWT di muka bumi.
Justeru itu, manusia yang telah diberikan mandat, amanat untuk memanfaatkan, memelihara dan melestarikan alam beserta lingkungannya, harus betul-betul mampu menjalankan amanat dengan sebaik-baiknya.
Dalam hal ini Allah SWT memberikan mandat dan keluwesan kepada manusia untuk memanfaatkan flora dan fauna, termasuk sumber daya alam lainnya. Tetapi, jangan sampai melakukan eksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebih-lebihan, menguras habis potensi yang ada, sehingga berdampak negatif terhadap perkembangan habitat makhluk lainnya.
“ Kuluu wasy-rabuu wa laa tusrifuu innahuu laa yuhibbul musrifiina.”
Artinya : “ makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” ( Q.S.7.31 ).
“ Wa laa tufsiduu fil ardhi bakda ishlaahihaa wad’uuhu khaufaw wa thama’aan inna rahmatallaahi qariibum minal muhsiniina.”
Artinya : “ Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah ( diciptakan ) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” ( Q.S.7.56 ).
Memperhatikan firman Allah SWT di atas betapa tingginya rahmat Allah dan kasih sayangnya kepada umat manusia. Sebelum umat manusia lahir ke permukaan bumi ini, semua kebutuhan manusia telah disediakan, bahkan difasilitasi dengan lengkap dan sangat sempurna oleh Allah SWT.
Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan, melampaui batas kebutuhan! Allah SWT membenci mereka yang suka berlebih-lebihan.
Di sisi lain Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi dalam bentuk apa pun, termasuk larangan keras merusak alam dan lingkungan sekitarnya. Karena alam dan lingkungan adalah satu kesatuan geologis yang sangat erat hubungannya. Justeru itu dengan memelihara alam dan lingkungan, berarti telah melestarikan berbagai macam kehidupan.
Kemudian Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk berdoa dengan penuh perasaan takut, dalam pengertian takut jika tobatnya tidak diterima, doanya tidak dikabulkan. Selanjutnya berdoalah dengan penuh harap dan sikap optimis doa dan harapan yang dilangitkan diperkenankan oleh Allah SWT.
Yang tidak kalah pentingnya kata Allah SWT agar selalu mendapatkan rahmat, kasih sayang-Nya hendaklah manusia melakukan, membiasakan dan melanjutkan amal kebaikan sepanjang hayat. Karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT itu berdampingan dengan komunitas muhsinin, yaitu mereka yang dalam kehidupannya selalu berbuat baik dan mencintai kebaikan.
Sanggupkah Manusia Menjaga Amanat?
Inilah yang menjadi titik fokus, pusat perhatian kita dalam menyikapi dan menindaklanjuti rahmat, kasih sayang dan nikmat Allah SWT kepada umat manusia yang tiada tara.
Rahmat dan nikmat Allah SWT kepada umat manusia tidak terhingga dan takkan terhitung banyaknya oleh manusia itu sendiri. Sanggupkah manusia memelihara amanat, tanggung jawab yang diembankan ke pundaknya?
Bagi mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, Insya Allah dipastikan mereka akan mampu menjalankan amanah. Sebaliknya mereka yang tidak istiqamah dengan keimanan dan ketakwaan yang dimilikinya, maka terombang-ambinglah dan merugilah dengan menurutkan kemauan hawa nafsu dan menyesal di kemudian hari, wa na’dzubillaahi min dzaalik!
“ Lain syakartum la-aziidannakum wa lain kafartum inna ‘adzaabiy lasyadiidun.”
Artinya : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah ( nikmat ) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari ( nikmat-Ku ), maka pasti azab-Ku sangat berat.” ( Q.S.14.7 ).
Setelah manusia dianugerahi Allah SWT dengan berbagai anugerah rahmat, kasih sayang, nikmat yang banyak, dengan memenuhi segala kebutuhan, memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh umat manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia, juga untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak.
Justeru itu, Allah SWT membimbing dan mengarahkan manusia ke jalan yang ditetapkan-Nya, jalan yang lurus, diridhai Allah SWT. Kemudian Dia mengirimkan utusan-Nya, khusus bagi umat Islam, umat akhir zaman dengan mengutus Rasulullah Muhammad SAW.
Dalam hal ini, Allah SWT sengaja mengutus Rasulullah Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia sampai akhir zaman, menjadi rahmat bagi semesta alam, dalam upaya untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan manusia, agar umat manusia menjadikan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai pedoman, penuntun, way of life dalam hidup dan kehidupan mereka sepanjang hayatnya.
Tatkala manusia diberikan berbagai fasilitas yang menyenangkan, segala kebutuhan tersedia, apalagi dianugerahi amanat, tanggung jawab, pimpinan dan kepemimpinan, maka timbullah sikap angkuh, sombong dan ingin menguasai segalanya. Bahkan melupakan Allah SWT sebagai penciptanya, padahal semuanya ini adalah titipan, amanah Allah SWT yang suatu saat akan dimintakan pertanggung jawabannya.
Seorang mufassir abad ke-19 Mushtafa Al-Maraghi membagi amanah kepada tiga bentuk;
“ (1). Amanah yang berasal dari Tuhan; (2). Amanah dari sesama manusia dan (3). Amanah untuk diri sendiri.”
Ketiga amanah ini pada prinsipnya tetap akan dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT dan dilaksanakan secara maksimal. Seorang pemimpin dan kepemimpinannya ( khalifah dan Khilafah ) dituntut untuk menegakkan keadilan, kebenaran, memberantas, menghilangkan setiap kezaliman dan kemaksiatan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi lapisan masyarakat.
Tetapi amat disayangkan kebanyakan manusia tidak mau menjalankan amanah, tanggung jawab yang diembannya dengan baik. Mereka tidak mengindahkan ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya, seolah-olah bagi mereka godaan hawa nafsu dan menurutkan kesenangan sesaat atau mematuhi tagut, pemimpin laknat lebih mereka sukai dari pada mematuhi Allah SWT dan Rasul-Nya serta mensyukuri nikmat Allah SWT yang tidak terhingga.
“ I’maluu aala daawuuda syukraw wa qaliilum min ‘ibaadiyasy-syakuuru.” Artinya : “ Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur ( kepada Allah ). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. ( Q.S.34.13 ).
“ Wa laakinna aktsaran naasi laa yasykuruuna.” Artinya : “ Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” ( Q.S.12.38 ).
Berdasarkan ayat di atas kebanyakan manusia tidak mampu bersyukur, berterima kasih kepada Allah SWT pada hal Allah SWT telah berlaku amat baik terhadap manusia. Allah SWT telah menyiapkan segala hal yang dibutuhkan manusia, memfasilitasi manusia dengan berbagai potensi alam dan lingkungan, yang semuanya itu adalah bukti nyata kasih sayang, rahmat Allah SWT terhadap umat manusia.
Al-Quran Bicara Tentang Kabut.
Akhir-akhir ini lebih kurang sebulan belakangan di Indonesia pada umumnya, khususnya bagi daerah yang memiliki areal, lahan perkebunan sawit yang luas. Seperti, Kalimantan, Riau dan Jambi terjadi kasus kebakakaran hutan dan lahan yang dikenal dengan karhutla.
Akibat dari karhutla ini merembes ke mana-mana, bukan bagi wilayah perkebunan saja.
Akan tetapi kabut asap telah sampai memenuhi Sumatera juga negara tetangga Malaysia dan Singapura. Bahkan pemerintah Indonesia telah mendapatkan protes keras dari negara jiran Malaysia akibat kabut asap yang menyelimuti wilayahnya.
Dampak negatif yang ditimbulkan karhutla sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan, mengganggu dan mengancam kesehatan manusia. Sementara itu musim kemarau panjang pun ikut menyusul, sehingga dalam dua minggu terakhir di Pekanbaru, Jambi dan Padang anak-anak sekolah dipulangkan ke rumah.
Selanjutnya memperlakukan pembelajaran secara jarak jauh, melalui media online dengan memanfaatkan teknologi. Ini baru seputar kabut dunia, bagaimana nanti dengan kabut di akhirat?
Jika kita perhatikan secara seksama dalam Al-Quran, yang merupakan Kitab Suci umat Islam ada sebuah surah atau surat bernama “ Ad-Dukhan “ yang berarti kabut, surah ini terdapat pada urutan ke-44 dalam mushaf AlQuran.
Surah ini termasuk kelompok surah Makkiyah, diturunkan Allah SWT sesudah Az-Zukhruf. Nama Ad-Dukhan ( kabut ) terambil dari perkataan dukhan yang terdapat dalam ayat 10.
“ Menurut riwayat Bukhari, secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut : Perbuatan, perilaku orang-orang kafir Mekah yang menghalang-halangi agama Islam, menyakiti dan mendurhakai Nabi Muhammad SAW yang sudah melewati batas. Karena itu Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah agar diturunkan azab, sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf AS berupa kemarau panjang.
Doa Nabi Muhammad SAW dikabulkan oleh Allah SWT sehingga terjadilah kemarau panjang, yang membuat orang kafir sampai memakan tulang dan bangkai disebabkan kelaparan. Mereka selalu menengadahkan tangan ke langit mengharapkan pertolongan Allah, tetapi tidak satu pun yang mereka lihat, kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.
Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW seraya memohonkan hujan; setelah doa Nabi dikabulkan oleh Allah SWT hujan turun begitu lebatnya. Mereka orang kafir tersebut kembali kafir seperti semula. Oleh sebab itu, Allah menyatakan mereka nanti akan diazab dengan siksaan yang amat pedih.”
“ Fartaqib yauma taktiyas samaa-u bidukhaanim mubiinin, yaghsyan-naasa haadzaa ‘adzaabun aliimun. Rabbanaak-syif ‘annal ‘adzaaba innaa mukminuuna.”
Artinya : “ Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. ( Mereka berdoa ) “ Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman.” ( Q.S.44.10-12 ).
Begitulah perilaku dan perangai orang-orang kafir yang selalu menghalangi umat Islam, berani menyakiti dan mendurhakai Rasulullah Muhammad SAW. Pada hal Rasulullah Muhammad SAW ingin menyelamatkan mereka, membawa mereka untuk menyembah Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pencipta Segalanya, yang telah menyediakan segala kebutuhan umat manusia. Namun sudah dasarnya orang kafir, mereka mengingkari kebenaran dan tidak mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pencipta Segalanya, mereka pun tidak mempercayai hari akhirat, hari pembalasan untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka selama hidup di dunia.
Perilaku Manusia Terhadap Lingkungannya.
Tidak diragukan lagi terjadinya kabut atau asap yang hampir tiap tahun menimpa masyarakat di berbagai daerah, tidak luput dari ulah tangan dan perilaku manusia, yang tidak menghiraukan lingkungan dan alam sekitarnya. Mereka menyerobot hutan untuk perluasan perkebunan, setelah mereka melakukan penebangan lalu mereka membakarnya.
Bahkan bagi perusahaan perkebunan yang telah lama beroperasi, mereka pun melakukan replanting, peremajaan dengan jalan menumbangkan pohon-pohon sawit yang tidak produktif. Selanjutnya disinyalir ada pihak perusahaan dan para petani sawit secara diam-diam melakukan pembakaran terhadap pohon-pohon yang telah tumbang tersebut, ditambah pula di musim kemarau tentu kobaran api menjalar dengan cepat.
“ Setiap tahun kerusakan lingkungan di Indonesia selalu meningkat grafiknya, tahun 2026 didominasi oleh krisis ekologis berlapis akibat deforestasi, timbunan sampah dan kerentenan iklim.”
Hampir di mana-mana terjadi banjir bandang yang meluluhlantakkan berbagai fasilitas gedung perkantoran, fasilitas umum, rumah dan areal persawahan dan perkebunan rakyat. Bahkan sampai sekarang daerah yang dilanda banjir bandang tersebut belum terpulihkan kehidupan perekonomian mereka oleh pemerintah, sungguh sangat miris dan mengenaskan.
“ Menurut informasi yang dipercaya pada kwartal II tahun ini, kerusakan alam dan lingkungan akibat praktik pertambangan mencapai 36%. Perampasan hutan adat mencapai 33% dan ekspansi perkebunan sawit daya rusaknya menanjak sampai 31%.”
Bagaimana pun juga kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia sudah merupakan rahasia umum, adalah akibat penetrasi dan penyerobotan hutan, perluasan perkebunan sawit dan praktik tambang legal mau pun ilegal, yang saat ini sudah menjadi lahan abu-abu, yang mendatangkan sengkarawut di tengah masyarakat.
Beragam praktik yang menggejala ini akan berdampak terhadap lingkungan alam sekitarnya, termasuk pengelolaan sampah sembarangan juga tak terelakkan, ikut memicu kerusakan lingkungan.
Khususnya pengelolaan sampah yang sempat viral dalam dua bulan terakhir ini, yaitu kebakaran atau dibakarnya tumpukan sampah di lokasi pembuangan sampah di salah satu daerah di Pulau Jawa. Membuat repot petugas lintas sektoral dalam memadamkan kobaran api yang semakin menggila, menggepulkan asap tebal, angkasa dipenuhi kabut yang akan merusak cakrawala.
“ Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aidinnaasi liyuziiqahum bakdhal ladziy ‘amiluu la’allahum yarji’uuna “
Artinya : “ Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari ( akibat ) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar ).” ( Q.S.30.41 ).
Berdasarkan ayat di atas menginformasikan kepada kita, bahwa keterlibatan manusia dalam merusak alam dan lingkungan tak terelakkan lagi. Mereka menurutkan hawa nafsu dan kemauan untuk memperkaya diri dan kroninya. Sehingga mereka melupakan pesan-pesan Ilahy Rabbi tentang perlunya melestarikan alam dan lingkungan. Bukankah menjaga keseimbangan alam dan lingkungan lebih baik dari pada melakukan reboisasi secara besar-besaran.
Bagaimana pun juga manusia dipastikan punya ketergantungan dengan alam, begitu pula dengan makhluk lainnya juga punya ketergantungan dengan alam dan manusia. Tetapi hanya manusia sajalah yang bisa diharapkan untuk proaktif dalam melestarikan alam dan lingkungannya.
Apabila manusia makhluk Allah SWT yang terbaik, yang diharapkan berada di barisan terdepan dalam memanfaatkan, memelihara dan melestarikan alam dan lingkungan; tidak lagi mau menjalankan fungsinya dengan baik; maka akan terjadilah kerusakan yang amat dahsyat dan akan berpengaruh terhadap keseimbangan alam yang telah serasi dan harmoni diciptakan oleh Allah SWT.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan, semua pihak sudah mulai apatis, bersilengah dan tidak punya kepedulian terhadap alam dan lingkungannya serta tidak punya rasa tanggung jawab moral lagi. Termasuklah dengan membiarkan praktik pencurian aset negara oleh para koruptor berdasi untuk tujuh turunan, nepotisme dan kolusi merajalela.
Penegakan hukum hanya untuk membela penguasa dan oligarki, bukan berpihak kepada kebenaran dan rakyat jelata. Keadilan, kesejahteraan yang ditunggu-tunggu rakyat tidak kunjung tiba, inilah PR besar bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini, mengembalikan kepercayaan rakyat yang sudah mulai terpecah oleh berbagai kepentingan.
Pada hal negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, terkenal dengan kaya raya dengan sumber daya alamnya. Kaya dengan emas peraknya, nikel, batu bara, bahan bakar minyak ada di mana-mana. Tetapi untuk mendapatkannya butuh antrian yang cukup lama. Begitu pula kaya dengan hasil tambang lainnya, seperti panas bumi, boksit dan ditambah pula dengan hasil perkebunan sawit terluas di dunia.
Alangkah naif dan malangnya negara ini dibiayai dengan memajak rakyat, setelah pajak terkumpul uangnya pun dipalak pula oleh petugas pajak? Sementara kehidupan rakyat semakin susah, perekonomian semakin merosot, daya beli masyarakat semakin lemah, karena pekerjaan semakin langka, dan PHK semakin menganga.
Semoga kiranya para pemimpin formal dan informal kembali menyadari apa arti sebuah kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, pejuang bangsa yang telah mengurbankan jiwa raga dan apa yang dimilikinya untuk kemerdekaan Indonesia. Masihkah tujuan kemerdekaan Indonesia tertanam kuat dalam hati sanubari pemimpin bangsa dan anak bangsa Indonesia saat ini, yang hanya sibuk memikirkan partainya masing-masing? Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Kependidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*