Ancaman Allah Bagi Pelaku Kezaliman

Ancaman Allah Bagi Pelaku Kezaliman

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*

Kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang merupakan sebuah kerugian bagi kedua belah pihak; boleh jadi bagi pelaku kezaliman untuk sementara waktu, mereka merasakan kesenangan dan menikmati hasil dari perbuatannya.

Akan tetapi, apa yang telah mereka lakukan telah melukai, merusak hati nurani mereka sendiri. Karena perbuatan mereka itu bertentangan dengan hati nurani dan akal sehat mereka sendiri.
Hal ini disebabkan mereka tidak mengindahkan suara hati dan jiwanya, yang pada dasarnya manusia yang waras dan berakal sehat, cenderung untuk berbuat baik dan tidak tidak mau merugikan orang lain.

Di sisi lain mereka juga tidak mempergunakan akal sehatnya, mereka telah terbelenggu oleh kemauan hawa nafsu, yang tak terbendung ingin mendapatkan yang disukai, disenangi, tanpa harus melalui proses dan prosedural yang baik, sehingga mereka mengambil jalan pintas, menerabas segala pembatas dan ketentuan yang berlaku.

Pelaku Kezaliman Menurut Al-Quran.

Al-Quran selaku Kitab Samawiy yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS, yang isi kandungannya memuat tuntunan menuju kehidupan yang lebih baik untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kitab suci Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia, menjelaskan tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.

Al-Quran juga menjelaskan ciri-ciri mereka yang beriman dan bertakwa, menerangkan juga tanda-tanda orang yang kafir, ingkar dan mereka yang munafik serta mereka yang fasik, yang perbuatannya bertentangan dengan hati nurani dan akal sehatnya. Sehingga mereka mudah saja melakukan kezaliman, menganiaya diri sendiri, orang lain, bahkan merusak tatanan alam semesta yang begitu indah diciptakan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan umat manusia.

Bagi mereka yang berlaku zalim, aniaya, yang sering merugikan diri sendiri, juga merusak sesama manusia dan merusak alam sekitar, tanpa memikirkan akibat, dampak negatif dari perbuatan mereka yang brutal, bengis dan bertentangan dengan akal sehat.

Tegasnya mereka yang berlaku zalim itu adalah mereka yang telah melupakan Allah SWT dan Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri. Hal inilah yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Quran.

“ Wa Laa takuunuu kalladziina nasullaaha fa-ansaahum anfusahum, ulaa-ika humul faasiquuna “

Artinya : “ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik “. ( Q.S.59.19 ).

Dengan mengacu kepada firman Allah SWT di atas, dapat dimengerti bahwa mereka yang senang melakukan kezaliman, menganiaya sesama manusia, melakukan berbagai kerusakan di muka bumi ini, adalah mereka yang telah melupakan Allah SWT. Dengan segala perbuatannya yang merusak alam semesta, menzalimi sesama manusia, mereka telah melupakan Allah SWT sebagai pencipta dunia beserta isinya.

Tatkala mereka telah melupakan diri sendiri, mereka tidak menyadari lagi bahwa tugas dan fungsinya sebagai manusia, makhluk Allah yang mulia, sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berfungsi sebagai pemelihara, penjaga dan pemanfaatan alam semesta dengan sebaik-baiknya, tanpa harus merusak, melakukan kecurangan dan berbuat kezaliman terhadap sesama manusia.

Dengan perbuatan tersebut, mereka telah menjadi orang-orang yang fasik, mereka mengetahui kebenaran, tetapi mereka lebih mencintai kebatilan, mereka memahami arti kebaikan, tetapi mereka lebih menggandrungi keburukan, mereka mengenali amal kebaikan, tetapi mereka lebih menyukai amal kejahatan dan kemaksiatan.

Fenomena inilah yang masif, terlihat dalam hidup dan kehidupan saat ini. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, maka akan menjuruslah kepada perbuatan syirik, mempersekutukan Allah SWT dengan lainnya.

Apabila perbuatan syirik telah menggejala dengan kasat mata, maka akan terjadilah berbagai kerusakan di sana sini, karena manusia yang mempersekutukan Allah, mereka tidak lagi mempercayai adanya Tuhan.
Seolah-olah umat Islam tidak mempercayai lagi rukun iman, yang salah satunya tidak lagi mengakui hari pembalasan.

Jika kondisi ini tidak cepat dan segera diperhatikan oleh para ulama, kelompok pemimpin formal dan informal, maka kehidupan ke depan akan semakin sulit, keamanan, ketertiban dan keselamatan jiwa manusia pun akan terancam.
Orang akan mudah saja melakukan pembunuhan, menghilangkan nyawa manusia bagaikan membunuh binatang ternak.

Pada hal dalam Islam segalanya telah diatur dengan sebaik-baiknya, tidak boleh melakukan kezaliman kepada siapa pun. Jangankan kepada manusia, binatang dan alam sekitarnya. Sedangkan menyembelih binatang ternak ada tuntunannya, tajamkan pisau, alat penyembelih agar binatang yang disembelih tidak merasa teraniaya.

Begitulah ajaran Islam, sangat memperhatikan tentang hidup dan kehidupan di dunia, agar umat manusia mampu memelihara, menjaga alam semesta, agar tetap lestari, berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jangan sampai pemimpin hari ini meninggalkan generasi yang lemah, meninggalkan suasana yang tidak baik-baik saja, mewarisi utang yang akan memberatkan generasi berikutnya.

“ Walyakhsyalladziina law tarakuu min khalfihim dzurriyyatan dhi’aafan khaafuu ‘alaihimfalyattaqullaaha wal yaquuluu qaulan sadiidaa “.

Artinya : “ Dan hendaklah takut ( kepada Allah ) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap ( kesejahteraan )nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. ( Q.S.4.9 ).

Sudah merupakan tugas dan tanggung jawab para pemimpin hari ini untuk bisa menyiapkan generasi yang tangguh, kuat, beriman, bertakwa, memiliki ilmu pengetahuan, terampil dan menguasai berbagai aneka keterampilan untuk menopang kehidupan yang lebih baik di masa datang.

Dalam ayat di atas Allah SWT menegaskan, jangan sampai kalian meninggalkan generasi yang lemah, yang menyebabkan kalian merasa khawatir atas kesejahteraan mereka.

Melalui ayat ini Allah SWT dengan ungkapan yang menyejukkan, mengingatkan umat Islam jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah di kemudian hari. Yaitu generasi yang lemah keimanan ketakwaannya, lemah pisik mentalnya, lemah ilmu pengetahuan dan wawasannya, lemah keterampilannya dan lemah semangat dan etos kerjanya.

Sudah saatnya pemimpin hari ini melegacykan, mewariskan dan meninggalkan generasi hebat bermartabat, berilmu pengetahuan, terampil dan berkualitas dunia akhirat. Apabila para pemimpin hari ini tidak menyiapkan generasi mendatang dari sedini mungkin, dari sekarang berarti mereka telah melakukan kekeliruan yang nyata. Mereka telah melakukan perencanaan yang sesat, berbuat kezaliman yang nyata untuk meruntuhkan bangunan, pondasi bangsanya sendiri.

Ancaman Allah bagi pelaku kezaliman.

Kezaliman manusia terhadap sesama yang telah merajalela di sana sini, sepertinya sudah sampai pada posisi yang mengkhawatirkan, mereka saling menyalahkan, sikut menyikut, persaingan yang tidak sehat semakin menganga. Praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ( KKN ) juga semakin meresahkan di tengah-tengah perekonomian rakyat yang tidak baik-baik saja.

Daya beli masyarakat semakin menurun, karena mereka kehilangan pekerjaan, ditambah beban rumah tangga, biaya pendidikan dan biaya kesehatan semakin tidak terjangkau, harga sembako melangit serta BBM yang sulit untuk mendapatkannya, harus rela mengikuti antrian panjang berjam-jam.

Padahal negeri kita Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan Sumber Daya Alam ( SDA ), kenapa krisis ini harus terjadi? Tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh faktor manusianya, pemimpinnya yang tidak berintegritas, kehilangan jiwa patriotisme, cinta tanah air telah beralih kepada cinta harta, pangkat, gila jabatan serta kehidupan yang mewah.

Para pemimpin di negeri ini sudah terkontaminasi oleh kehidupan dunia yang menginginkan harta yang melimpah, ingin melanggengkan kekuasaan dengan menerabas aturan, melakukan pembodohan. Setiap program yang dijalankan tidak mengacu kepada aturan dan regulasi yang telah ada. Seolah-olah negara ini milik mereka yang berkuasa, aturan yang dilakukan semaunya, sesuai dengan kelompok tertentu saja.
Di sisi lain anggota legislatif yang diharapkan untuk menjadi penyeimbang, sebagai alat kontrol dalam mengawasi kebijakan, seolah-olah mati suri

Pihak yudikatif, legislatif dan eksekutif dalam pelaksanaan tugasnya, telah bermain mata, memperlihatkan kerjasama yang baik dalam kejahatan, kemaksiatan, dengan melakukan korupsi berjamaah, seperti yang telah dilansir oleh berbagai media nasional dan media asing.

Ada apa dengan eks Jampidsus, petinggi Polri terlibat dengan dalangnya narkoba, petinggi TNI juga terlibat dalam penyalahgunaan wewenang, anggota DPR RI pun tidak ketinggalan. Juga para menteri, gubernur, bupati/walikota dan OPD pun ikut kena OTT KPK, wa na’uzubillaahi mindzaalik.

Perlakuan dan perbuatan kerjasama untuk kepentingan pribadi, komunitas dengan mengenyampingkan kebutuhan rakyat banyak sangat tercela dan sangat bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pejuang, pahlawan ibu pertiwi. Pantaskah setelah 81 tahun merdeka para penguasa, pimpinan di pusat pemerintahan cawe-cawe, melakukan kerja sama yang menyakitkan rakyat. Bukankah Allah SWT telah mengatur dan menggariskan pola kerja sama yang baik, saling menguntung untuk kemaslahatan dan ketakwaan.

“ Wa ta’aawanuu ‘alal birri wattaqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan, wattaqullaaha innallaaha syadiidul ‘iqaabi “

Artinya : “ Dan tolong menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya. ( Q.S.5.2 ).

Apa pun alasannya para pimpinan di tingkat pusat, mau pun di daerah melakukan kerja sama yang hanya menguntungkan pribadi, komunitas tertentu, yang tidak berdampak positif terhadap kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat dan rakyat, dinilai sangat tercela .

Dipastikan tidak bisa dibenarkan oleh norma dan hukum apa pun. Baik ditinjau dari hukum positif, UUD 1945 dan Pancasila, apalagi dilihat dari kaca mata agama mana pun. Apalagi ajaran Islam mengutuk dan melaknat pemimpin yang merugikan bangsa, negara dan rakyatnya.

Setidaknya ada beberapa ancaman Allah SWT bagi para pelaku zalim, menganiaya masyarakat dan rakyatnya, yang melabrak konstitusi, aturan yang sudah baku diterabas, tidak mengindahkan ajaran agama, sombong dan tidak lagi mau menerima masukan dari berbagai pihak kompoten.

Sepertinya negara telah berubah wujud dari republik ke monarchi atau kerajaan. Apa yang diucapkan oleh raja otomatis menjadi undang-undang? Setidaknya inilah ancaman Allah SWT bagi pemimpin zalim, pengkhianat kemerdekaan dan banyak merugikan bangsa dan negara, sebagai berikut :
1. Allah SWT tidak akan menerima taubatnya, karena telah melakukan tindakan mempersekutukan Allah dengan yang lain, menurutkan hawa nafsu, bahkan menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.

“ Afaraita manittakhadza ilaahahuu hawaahu wa adhallaahullaahu ‘alaa ‘ilmiw wa khatama ‘alaa sam’ihii wa qalbihii wa ja’ala ‘alaa basharihii ghisyaawatan, famay-yahdiihi min bakdillaahi, afalaa tadzakkaruuna “.

Artinya : “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah ( membiarkannya sesat )? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? ( Q.S.45.23 ).

“ Innallaaha laa yaghfiru ay-yusyraka bihii wa yaghfiru maa duuna dzaalika limayyasyaa-u, wa may-yusyrik billaahi faqad dhalla dhalaalan ba’iidan “.

Artinya : “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik ( mempersekutukan Allah dengan sesuatu ), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan ( sesuatu ) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali “.
( Q.S 4.116 ).

Betapa besarnya hukuman, sangsi, ancaman yang berat bagi para pemimpin atau siapa saja yang menurutkan hawa nafsu, kemauan bejatnya.

Bahkan menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dalam pengertian hawa nafsunya sebagai panglima, mengalahkan akal sehatnya dan tidak mau menerima saran, kritikan positif dari ulama dan pakarnya.
Jika kondisi seorang pemimpin dan pimpinan yang berprilaku seperti yang dijelaskan firman Allah SWT di atas, tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Justeru itu diperlukan upaya nyata dari para ulama untuk menasehatinya, memberikan pencerahan atau masukan dari beberapa orang pakar di bidangnya. Setelah diberikan masukan, pencerahan tetapi yang bersangkutan tidak mengindahkan, sombong dan angkuh dengan pendapatnya.

Maka sudah menjadi kewajiban bagi pihak kompeten yang formal untuk meminta pertanggungjawabannya, sesuai dengan sumpah, janji yang telah diikrarkannya. Pemimpin yang keras kepala ini akan mendapatkan azab, siksaan yang amat berat dari Allah SWT, taubat dan mohon ampunannya kepada Allah SWT tidak berlaku padanya. Allah SWT menegaskan tidak akan mengampuni dosa mereka yang mempersekutukan-Nya.
2. Pelaku zalim, yang melakukan kezaliman, melakukan kerusakan di sana sini, baik di darat dan di laut tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

“ Wa maa lizh-zhaalimiina min anshaarin “

Artinya : “ Tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim “. ( Q.S.3.192 ).

“ Wa man azhlama mimmaniftaraa ‘alallaahi kadziban aw kadz-dzaba bi aayaatihii, innahuu laa yuflihuzh-zhaalimuuna “.

Artinya : “ Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung. “ ( Q.S.6.21 ).

3. Mereka yang melakukan kezaliman, kerusakan, kemaksiatan dan kemungkaran di muka bumi, tidak mendapatkan kemaafan dari Allah SWT, malah dilaknati, dimurkai Allah SWT dan bagi mereka disediakan tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Hal ini pun dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran.

“ Yauma laa yanfa’uzh zhaalimiina ma’dziratuhum wa lahumul la’natu wa lahum suu-ud daari “.

Artinya : “ ( yaitu ) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat dan tempat tinggal yang buruk “. ( Q.S.40.52 ).

4. Allah SWT akan mendatangkan bencana dan malapetaka di negeri yang didominasi oleh mereka yang zalim, mereka melakukan sewenang-wenang, melanggar aturan dan berbuat di luar batas kewajaran. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT.

“ Fa ka-ayyim min qaryatin ahlaknaahaa wa hiya zhaalimatun fahiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusyihaa, wa bikrim mu’ath-thalatiw wa qashrim masyiidin “.

Artinya : “ Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena ( penduduk )nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan ( betapa banyak pula ) sumur yang telah ditinggalkandan istana yang tinggi ( yang tidak ada penghuninya ). ( Q.S.22.45 ).

Firman Allah SWT di atas menggambarkan umat terdahulu, kaum Saba’ yang tidak patuh kepada aturan Allah SWT, pada hal Allah SWT telah menganugerahi mereka baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Tetapi mereka berbuat semena-mena, melakukan segala bentuk kerusakan, mengerjakan kemaksiatan dan pusat-pusat pemerintahan didominasi oleh mereka yang zalim. Boleh jadi banyaknya terjadi bencana dan mara bahaya yang terjadi di bumi pertiwi ini, adalah disebabkan maraknya kemaksiatan dan kezaliman, disebabkan oleh prilaku manusia yang tidak terkendali

5. Mereka yang pernah menzalimi manusia, merusak kehormatan saudaranya selama di dunia, tetapi belum sempat meminta maaf atas perbuatan kezalimannya, di akhirat kelak, kebajikan dan amal saleh yang dimilikinya akan dipindahkan kepada saudaranya yang pernah dianiaya, dirusak nama baiknya, melakukan kecurangan dan membodohinya. Seperti diterangkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam sebuah hadisnya.

“ Man Kaanat lahu mazhlamatun li akhiihi min ‘irdhihi aw syai-in falyatahallalhu minhul yauma qabla al-laa yakuuna diinaarun wa laa dirhamun in kaana lahu ‘amalun shaalihun akhidza minhu biqadri mazhlamatihi wa il-lam takun lahu hasanaatun akhidza minhu sayyi-aatin shaahibihi fahumila ‘alaihi “.

Artinya : “ Siapa yang pernah berbuat aniaya ( zalim ) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apa pun, hendaklah dia meminta kehalalannya ( maaf ) pada hari ini ( di dunia ) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka ( nanti pada hari kiamat ) bila dia memiliki amal saleh akan diambil darinya sebanyak kezalimannya.

Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan sudaranya yang dizaliminya itu akan diambil, lalu ditimpakan kepadanya “. ( H.R. Bukhari ).

Begitulah di antara ancaman, azab dan sangsi yang akan diterima oleh para pelaku kezaliman, yang suka sewenang-wenang, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, melakukan kerusakan di bumi Allah ini dan melanggar batas kewajaran.

Mereka tidak akan mendapatkan ampunan Allah SWT di tempatkan di neraka tempat yang seburuk-buruknya, mereka dilaknat Allah SWT, mereka tidak mendapatkan pertolongan, terjauh dari kebahagiaan di akhirat. Allah SWT akan mendatangkan bencana di dunia, jika bumi Allah telah didominasi oleh komunitas zalim, para pengkhianat, pencoleng, perusak alam dan lingkungan.

Bahkan, di akhirat kelak kebaikan mereka akan dipindahkan kepada orang yang pernah mereka zalimi, jika amal kebaikannya tidak mencukupi, maka keburukan yang dilakukan oleh orang dan kelompok yang dianiaya, dipindahkan kepada sipenganiaya dan komunitas zalim, wallaahu a’lam bishshawaab

Semoga bangsa dan negara kita terjauh dari pemimpin zalim, terjauh pula dari berbagai kerusakan akhlak, budi pekerti dan kerusakan alam dan lingkungan, karena alam lingkungan adalah nafas dan nyawanya kehidupan generasi mendatang.

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah, Pendidik, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*