Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Salah satu beban pikiran yang paling sering dirasakan orang tua ketika memasuki usia lansia adalah melihat anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi belum juga memperoleh pekerjaan.
Bagi orang tua, keberhasilan anak menyelesaikan kuliah merupakan kebanggaan yang lahir dari perjuangan panjang, pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit.
Namun, kebahagiaan itu sering kali belum terasa sempurna apabila setelah wisuda anak masih menganggur dan belum memiliki penghasilan sendiri.
Perasaan itu semakin terasa ketika orang tua telah memasuki masa purna tugas atau pensiun. Saat masih aktif bekerja, mereka masih memiliki penghasilan tetap sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Akan tetapi, setelah pensiun, penghasilan tentu berkurang dan hanya mengandalkan uang pensiun atau tabungan yang dimiliki. Di usia senja, mereka berharap beban kehidupan mulai berkurang sehingga dapat menikmati masa pensiun dengan lebih tenang setelah puluhan tahun bekerja dan membesarkan keluarga.
Orang tua memahami bahwa mencari pekerjaan pada zaman sekarang bukanlah perkara mudah. Persaingan semakin ketat, lapangan pekerjaan terbatas, sementara jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun.
Mereka mengerti bahwa tidak semua orang langsung memperoleh pekerjaan setelah lulus. Namun demikian, sebagai orang tua, rasa cemas tetap tidak dapat dihindari. Mereka khawatir melihat anak yang telah dewasa masih bergantung kepada orang tua, sementara usia mereka sendiri semakin bertambah dan kondisi kesehatan tidak lagi sekuat dahulu.
Kegelisahan itu sering kali bertambah ketika melihat anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, sibuk dengan telepon genggam, dan jarang berinteraksi dengan keluarga. Orang tua tidak selalu mengetahui apa yang sedang dilakukan anaknya. Apakah benar sedang mencari lowongan pekerjaan, mengikuti pelatihan, mengembangkan keterampilan, mengirim lamaran, membangun usaha, atau sekadar menghabiskan waktu di media sosial.
Di dalam hati mereka muncul berbagai pertanyaan yang tidak selalu diucapkan. Mereka berharap anak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk terus belajar, memperluas wawasan, membangun relasi, meningkatkan keterampilan, dan tidak pernah menyerah dalam mencari pekerjaan.
Melihat anak terus berikhtiar sudah cukup menghadirkan ketenangan bagi orang tua, karena mereka percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan membuahkan hasil atas izin Allah SWT.
Perasaan orang tua juga sering terusik ketika bertemu dengan sahabat, tetangga, atau kerabat yang menceritakan bahwa anak mereka telah bekerja, bahkan ada yang telah berhasil meniti karier atau membangun usaha sendiri.
Mereka ikut bersyukur atas keberhasilan anak orang lain. Namun, jauh di lubuk hati, muncul harapan yang sama terhadap anaknya sendiri. Bukan karena iri, melainkan karena mereka ingin melihat anak yang telah dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan segera memperoleh pekerjaan, hidup mandiri, dan memiliki masa depan yang baik.
Keadaan itu terkadang menjadi lebih berat ketika dalam pertemuan keluarga, pesta, atau kegiatan masyarakat muncul pertanyaan sederhana, “Anaknya sekarang bekerja di mana?” atau “Sudah dapat pekerjaan belum?” Bagi orang lain mungkin pertanyaan itu hanya basa-basi.
Namun bagi orang tua, kalimat tersebut sering kali terasa menyentuh hati. Mereka menjawab dengan senyum sambil mengatakan bahwa anaknya masih berusaha mencari pekerjaan. Padahal, di dalam hati mereka terus berdoa agar penantian itu segera berakhir.
Banyak orang tua memilih memendam kegelisahan itu dalam diam. Mereka tidak ingin menambah beban pikiran anak-anaknya. Sebaliknya, mereka terus memberikan semangat, doa, dan dukungan agar anak tidak putus asa menghadapi kenyataan hidup.
Di balik senyum yang selalu mereka tunjukkan, tersimpan harapan yang begitu besar agar suatu hari nanti anak memperoleh pekerjaan yang layak, mampu mandiri, dan dapat menata masa depannya sendiri.
Sesungguhnya, orang tua tidak pernah menuntut anak memiliki pekerjaan bergaji besar, jabatan tinggi, atau memberikan sebagian penghasilannya kepada mereka. Orang tua juga tidak berharap hidup dari penghasilan anak. Yang paling mereka inginkan hanyalah melihat anak memperoleh pekerjaan yang halal, mampu berdiri di atas kaki sendiri, bertanggung jawab terhadap kehidupannya, serta kelak mampu membina keluarga yang bahagia. Bagi orang tua, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bukan karena mereka mengeluh membantu anak, tetapi karena ada kekhawatiran yang terus menghantui. Mereka bertanya dalam hati, sampai kapan masih mampu menopang kebutuhan anak-anak, sementara usia semakin bertambah, kesehatan semakin menurun, dan kemampuan ekonomi tidak lagi seperti ketika masih aktif bekerja.
Karena itu, anak-anak juga perlu memahami bahwa kesungguhan dalam mencari pekerjaan merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap pengorbanan orang tua. Jangan malu memulai dari pekerjaan apa pun selama halal dan bermanfaat.
Tidak ada pekerjaan yang hina apabila dilakukan dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Pengalaman, kerja keras, kesabaran, dan ketekunan akan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ikhtiar dan kerja keras memiliki nilai di sisi Allah SWT. Karena itu, seorang anak hendaknya tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan. Teruslah berusaha, berdoa, memperbaiki diri, dan yakinlah bahwa setiap rezeki telah ditentukan waktunya oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari).
Hadis ini mengajarkan bahwa bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga kehormatan diri dan menunaikan tanggung jawab sebagai seorang hamba. Setiap pekerjaan yang halal, sekecil apa pun, lebih mulia daripada hidup bergantung kepada orang lain tanpa adanya usaha.
Karena itu, wahai anak-anak, jangan pernah lelah berikhtiar. Jangan merasa rendah untuk memulai dari pekerjaan yang sederhana. Rezeki yang halal tidak selalu datang melalui pekerjaan yang bergengsi, tetapi sering kali melalui ketekunan, kejujuran, kesabaran, dan doa yang tidak pernah putus.
Sementara bagi para orang tua, teruslah mengiringi langkah anak-anak dengan doa. Sebab, doa orang tua adalah kekuatan yang luar biasa. Allah SWT berfirman:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74).
Bagi orang tua yang telah memasuki usia lansia, kebahagiaan bukan lagi diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Kebahagiaan terbesar mereka adalah melihat anak-anaknya telah bekerja, memperoleh rezeki yang halal, hidup mandiri, serta mampu membangun masa depan dan keluarganya sendiri. Itulah hadiah terindah yang dinantikan orang tua di masa pensiun.
Doa mereka sangat sederhana. Semoga Allah SWT membukakan pintu rezeki yang luas bagi anak-anaknya, memberikan pekerjaan yang baik, halal, dan penuh keberkahan. Semoga setiap anak menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berbakti kepada orang tua, serta bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.
Sebab pada akhirnya, bagi setiap orang tua, keberhasilan anak bukan sekadar memperoleh pekerjaan atau penghasilan. Keberhasilan anak adalah ketenteraman hati, penyejuk jiwa, dan kebahagiaan yang mengiringi langkah mereka hingga penghujung usia. Itulah hadiah terindah yang tidak dapat dinilai dengan harta apa pun.