Catatan Lansia Minangkabau (5) “Kerinduan Orang Tua Tidak Selalu Terucap”

Catatan Lansia Minangkabau (5) “Kerinduan Orang Tua Tidak Selalu Terucap”

Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH

 

Semakin bertambah usia seseorang, semakin berubah pula makna sebuah hadiah. Ketika masih muda, seseorang mungkin mengejar harta, jabatan, dan keberhasilan. Namun, ketika telah menjadi lansia, yang paling berharga bukan lagi semua itu. Waktu kebersamaan dengan anak, cucu, dan keluarga menjadi hadiah yang tidak ternilai.

Banyak orang tua tidak pernah meminta diberi uang setiap bulan. Mereka juga tidak menuntut anak-anaknya membelikan pakaian baru atau memenuhi berbagai keinginan. Yang mereka harapkan sering kali sangat sederhana, yaitu anak-anak mau meluangkan waktu untuk datang, duduk bersama, berbincang, dan mendengarkan cerita-cerita mereka.

Ada satu kebahagiaan yang sulit dilukiskan oleh seorang ayah dan ibu ketika memasuki usia senja, yaitu kesempatan mengunjungi anak dan cucu di perantauan. Perjalanan yang jauh, kelelahan di perjalanan, bahkan usia yang tidak lagi muda seolah tidak terasa ketika kerinduan kepada anak-anak akhirnya terobati.

Bagi orang tua, kunjungan itu bukan sekadar melihat rumah tempat tinggal anak atau menyaksikan keberhasilan mereka. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika dapat memeluk cucu-cucu, mendengar mereka memanggil “Kakek”, “Nenek”, “Ayah”, atau “Ibu”, makan bersama dalam satu meja, serta melihat anak-anak hidup rukun dan bahagia.

Pemandangan sederhana itu sudah cukup menjadi obat rindu yang selama ini mereka simpan.
Bahkan, jauh sebelum berangkat ke perantauan, mereka telah sibuk mempersiapkan berbagai keperluan.

Tanpa diminta, mereka mengingat satu per satu makanan kesukaan setiap anak. Dengan penuh kasih sayang mereka memasak sendiri, membungkusnya dengan rapi, lalu membawanya sebagai buah tangan.

Bagi orang tua Minangkabau, membawa makanan bukan sekadar membawa oleh-oleh. Itu adalah ungkapan kasih sayang yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan dengan kata-kata. Jika anaknya tinggal di Padang, misalnya, rendang hampir selalu menjadi bekal yang disiapkan. Selain rendang, mereka juga membawa lamang, pinyaram, galamai, kipang, karupuak sanjai, atau berbagai makanan khas kampung yang menjadi kesukaan anak-anak sejak kecil.

Mereka merasa bahagia ketika melihat anak-anak menikmati masakan yang dahulu selalu tersedia di rumah.
Saat memasak makanan-makanan itu, pikiran mereka sering melayang ke masa lalu.

Mereka teringat ketika anak-anak masih kecil, berkumpul di meja makan, berebut lauk yang baru diangkat dari dapur, atau meminta dibuatkan masakan kesukaannya. Kenangan itu tetap hidup dalam hati orang tua, meskipun anak-anak kini telah dewasa, berkeluarga, dan tinggal jauh di perantauan.

Karena rasa sayang yang tidak pernah pudar, setiap masakan yang dibawa bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi cara orang tua mengobati kerinduan. Mereka seakan ingin menghadirkan kembali suasana rumah yang dahulu dipenuhi tawa dan kebersamaan.

Mereka membayangkan anak-anak menikmati masakan itu seperti ketika masih tinggal bersama mereka. Bagi seorang ayah dan ibu, anak akan tetap menjadi anak, meskipun usianya telah lanjut dan telah memiliki anak-anak sendiri.

Sering kali anak-anak berkata, “Tidak usah repot-repot membawa apa-apa, Yah… Bu….” Namun, bagi orang tua, kerepotan itu justru menjadi kebahagiaan. Mereka merasa masih dapat melakukan sesuatu untuk anak-anaknya. Selama tenaga masih ada, mereka akan terus memberi tanpa menghitung balasan.

Mereka tidak bangga karena makanan itu mahal, tetapi karena dapat melihat senyum anak dan cucunya ketika menikmati masakan yang dibuat dengan penuh cinta.
Tidak jarang, setelah beberapa hari tinggal bersama anak di perantauan, orang tua kembali ke kampung dengan hati yang lapang.

Mereka membawa kenangan indah, foto-foto bersama cucu, serta keyakinan bahwa perjuangan membesarkan anak-anak selama puluhan tahun tidaklah sia-sia. Cerita kebersamaan itu kemudian mereka bagikan kepada tetangga dan sahabat seusianya dengan wajah penuh kebahagiaan.

Pada akhirnya, waktu yang diberikan kepada orang tua adalah hadiah yang paling berharga. Kehadiran anak, pelukan cucu, makan bersama, dan percakapan sederhana jauh lebih bernilai daripada hadiah yang mahal.

Di balik setiap perjalanan orang tua menemui anak-anaknya, di balik setiap bungkusan rendang dan makanan khas kampung yang mereka bawa, sesungguhnya tersimpan doa, kerinduan, kasih sayang, dan harapan agar ikatan keluarga tetap terjalin erat.

Sebab, bagi seorang ayah dan ibu, kebahagiaan terbesar bukanlah menerima, melainkan masih dapat memberi. Dan selama mereka masih mampu memasakkan makanan kesukaan anak-anaknya, selama itu pula kasih sayang mereka akan terus hidup, menghangatkan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.