Oleh Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Ada masanya sebuah rumah dipenuhi suara tawa anak-anak. Pagi hari diawali dengan kesibukan menyiapkan mereka ke sekolah. Siang dan sore dipenuhi canda, pertengkaran kecil antarsaudara, hingga nasihat orang tua yang tak pernah putus. Rumah terasa hidup karena setiap sudutnya dipenuhi cerita.
Namun waktu terus berjalan. Anak-anak tumbuh dewasa. Mereka melanjutkan pendidikan, bekerja, menikah, lalu membangun rumah tangga masing-masing. Satu demi satu mereka meninggalkan rumah, bukan karena ingin menjauh, tetapi karena kehidupan memang mengajarkan setiap anak untuk mandiri.
Ketika itu terjadi, rumah yang dahulu ramai perlahan menjadi sunyi. Kamar-kamar yang dulu penuh aktivitas kini lebih sering tertutup. Meja makan yang dahulu dipenuhi cerita kini hanya ditemani beberapa kursi yang terisi. Kesunyian itu sering kali menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang ayah dan ibu di usia senja.
Sebagai orang tua, kita harus belajar menerima bahwa anak-anak bukan kehilangan kasih sayang kepada kita. Mereka hanya sedang menjalankan amanah kehidupan, sebagaimana dahulu kita juga berjuang membesarkan mereka. Jangan biarkan kesunyian berubah menjadi kekecewaan. Jadikanlah ia sebagai kesempatan untuk lebih mendekat kepada Allah SWT, memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, bersilaturahmi, dan mengisi hari dengan kegiatan yang bermanfaat.
Bagi anak-anak, jangan pernah menganggap orang tua telah terbiasa hidup sendiri. Di balik senyum mereka, terkadang tersimpan kerinduan menunggu suara telepon, pesan singkat, atau kedatangan anak dan cucu. Perhatian yang sederhana sering kali lebih berharga daripada hadiah yang mahal.
Dalam adat Minangkabau dikenal nilai “nan tuo dihormati, nan ketek disayangi.” Orang tua adalah tempat meminta nasihat dan sumber pengalaman hidup. Menghormati mereka bukan sekadar memenuhi kewajiban adat, tetapi juga menjalankan ajaran agama yang memerintahkan setiap anak berbakti kepada ayah dan ibunya.
Rumah memang mungkin tak lagi seramai dulu. Namun rumah itu akan tetap hangat jika silaturahmi tidak pernah putus. Sesekali pulanglah, duduklah bersama orang tua, dengarkan cerita-cerita mereka yang mungkin pernah berulang. Bagi orang tua, kehadiran anak-anak bukan hanya mengobati rindu, tetapi juga menjadi peneguh bahwa pengorbanan selama puluhan tahun tidak pernah sia-sia.
Pada akhirnya, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat kasih sayang tumbuh, doa-doa dipanjatkan, dan kenangan keluarga disimpan. Ketika rumah tak lagi ramai, jangan biarkan cinta ikut sepi. Jagalah silaturahmi, karena itulah harta yang paling berharga bagi seorang lansia di penghujung usianya.