Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA.*
Perbuatan zalim adalah segala macam bentuk perbuatan yang melanggar batas, keluar dari kebiasaan manusia normal, yang pada dasarnya membawa kerugian, kerusakan terhadap orang lain dan bagi pelaku sendiri. Meskipun, buat sementara waktu ada manfaatnya bagi pelaku, tetapi pada dasarnya, perbuatan menzalimi orang lain, kelompok tertentu atau pun masyarakat dan rakyat dalam skala besar, adalah sebuah kerugian yang tak terhingga bagi pelaku dan kemanusiaan.
Bagaimana pun juga selaku manusia yang normal, waras, memiliki akal sehat, watak, kepribadian yang baik, dipastikan memiliki kecenderungan untuk berbuat baik bagi dirinya, keluarga, orang lain, masyarakat, umat dan bangsa dalam pengertian luas.
Sedangkan bagi mereka yang memiliki prilaku, watak, kepribadian yang menyimpang, yang tidak sehat, mereka selalu menurutkan kemauan, kehendak hawa nafsu yang tak terbendung oleh akal sehatnya. Sehingga mereka yang berprilaku tidak sehat, tidak waras, memiliki sifat egois, ananiyah, keakuan yang sangat tinggi ini, akan melakukan apa saja yang diinginkan oleh kehendak hawa nafsu, akal bulus, tanpa mempertimbangkan secara maksimal apakah perbuatan yang dilakukannya merugikan orang lain, bertentangan dengan adat, kebiasaan setempat, maupun berlawanan dengan norma, aturan yang berlaku di tengah masyarakat bangsa dan negara.
Sehubungan dengan perbuatan zalim saat ini ada kecendrungan meningkat dan terjadi hampir dimana-mana. Mulai dari rumah tangga, betapa banyak terjadinya perceraian yang diawali oleh perbuatan zalim, aniaya, perbuatan yang menyimpang, melepaskan dirinya dari tanggung jawab sebagai seorang suami isteri; lalu terjadilah perselingkuhan yang dilakukan oleh salah satu pasangannya, membuat rumah tangga menjadi rusak, membuat anak-anak menjadi korbandan teraniaya oleh kelakuan kedua orang tuanya.
Di tengah masyarakat tindakan zalim, merusak dan merugikan orang lain hampir terjadi di setiap daerah. Kalau dahulu terjadinya perampokan, pencurian dan perampasan harta benda, biasanya terjadi diperkotaan, tetapi sekarang pencurian, penganiayaan, pembegalan dan pembunuhan sadis pun telah menjalar ke pedesaan.
Begitu juga di kalangan pemerintahan, lembaga, instansi ( eksekutif ) yang diharapkan mampu menjadi penyanggah, pembina dan memberikan contoh tauladan kepada masyarakat dan rakyatnya, malah banyak pula oknumnya yang terlibat dalam praktik di luar ekspektasi dan tidak sesuai dengan harapan masyarakatnya. Peristiwa yang masif, dominan terjadi pada saat ini adalah, terjadi banyak penyimpangan, merajalelanya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme di kalangan pemangku jabatan dan penyelenggra pemerintahan.
Apalagi, pada saat ini seperti ditayangkan oleh berbagai TV pemerintah dan swasta, maupun media sosial, masif terjadinya penyimpangan sosial, yang dilakukan oleh berbagai mereka yang berbeda latar belakangnya.
Apakah itu, berasal dari pimpinan teras, eksekutif, juga dari barisan legislatif atau pun yudikatif. Begitu juga dengan beberapa oknum petinggi di TNI dan Polri juga terlibat dalam tindak korupsi MBG, termasuklah kasus mantan Jampidsus FA.
Ini merupakan kejadian yang luar biasa daya rusaknya, karena dilakukan oleh mereka yang berilmu, komunitas intelektual dari kalangan kelas elit, petinggi partai, gubernur, kalangan bupati dan walikota pun juga sudah banyak terjaring OTT oleh KPK.
Perbuatan zalim, tindakan kezaliman yang telah merambah kemana-mana, mereka telah melakukan kecurangan, kemaksiatan, melakukan tindakan yang merugikan. Bukan saja merugikan negara, umat dan bangsa, pada dasarnya mereka telah merugikan diri sendiri, merusak nama baik keluarganya, mereka sudah kehilangan rasa malu dan harga diri.
Faktor Penyebab Terjadinya Kezaliman
Ada pun faktor-faktor penyebab terjadinya kezaliman di tengah keluarga, masyarakat, umat dan bangsa menurut perspektif Islam, pada dasarnya tidak berdiri sendiri, adakalanya dipicu oleh berbagai faktor internal, eksternal dan ketidakwarasan yang dialami oleh pelaku, seperti yang dialami oleh konglomerat Qarun.
Qarun adalah seorang manusia biasa yang masih berhubungan saudara sepupu dengan Nabi Musa AS. Bahkan, Nabi Musa AS yang amat berjasa bagi Qarun tatkala dia meminta do’akan kepada Tuhan oleh Nabi Musa AS agar menjadi kaya raya.
Akan tetapi setelah Qarun menjadi kaya raya dan ikut menjadi penentu kebijakan disebabkan oleh aset, harta kekayaannya yang melimpah. Qarun yang pada awalnya dekat dengan Nabi Musa AS akhirnya menjauh, berlaku sombong karena harta kekayaannya yang tak terkira, plus telah memiliki kekuasaan, power disebabkan harta, aset yang dimilikinya. Dengan harta yang melimpah Qarun bisa mengatur segalanya, bersama bosnya Firaun. Bahkan Firaun berani dan percaya diri memproklamirkan dirinya menjadi Tuhan.
Setelah meproklamirkan dirinya menjadi Tuhan, maka Firaun bertambah semena-mena, melakukan tindakan di luar batas, dia tidak mempercayai lagi ada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, sehingga Firaun melakukan perbuatan brutal, membunuh siapa saja yang tidak mematuhinya, terutama membunuh anak-anak laki-laki yang baru lahir dan membiarkan hidup para perempuannya.
Setidaknya ada beberapa faktor penyebab terjadinya banyak kezaliman pada akhir-akhir ini menurut perspektif ajaran Islam antara lain :
1. Mereka yang suka melakukan kezaliman disebabkan mereka tidak percaya lagi kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Mereka mempersekutukan Allah SWT dengan yang lain. Boleh jadi mereka yang syirik itu, menjadikan harta, kekuasaan atau hawa nafsu sebagai Tuhan-nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, tatkala Lukmanul Hakim menasehati puteranya :
“ Wa idz qaala Luqmaanu libnihii wa huwa ya’izhuhuu yaa bunayya laa tusyrik billaahi, innasy syirka lazhulmun ‘azhiimun “
Artinya : “ Dan ( ingatlah ) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya “ Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan ( Allah ) adalah benar-benar kezaliman yang besar “ ( Q.S 31.13 ).
Dalam firman Allah SWT di atas dijelaskan bahwa mempersekutukan Allah SWT dengan yang lain adalah sebuah kezaliman yang besar. Karena tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Allah SWT sebagai Maha Pencipta, Maha Berkuasa, Maha Segalanya disamakan dengan makhluk ciptaan-Nya, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Semestinya seluruh makhluk ciptaan Allah SWT selayaknya mengabdi dan menghambakan diri kepada Allah SWT.
Bagi mereka yang tidak mempercayai Allah SWT dipastikan akan merasakan kegelisahan sepanjang hayatnya, meski pun harta benda melimpah, kekuasaan, power yang dimilikinya menakjubkan orang-orang sekelilingnya. Namun perasaan, jiwanya dihantui oleh perbuatan dosanya, yang selalu bertindak sewenang-wenang kepada manusia.
Di sisi lain para hamba Allah yang beriman, tidak akan mau melakukan kezaliman, mempersekutukan Allah SWT dengan lainnya. Juga tidak akan mau melakukan kecurangan, merugikan orang lain dan berbuat di luar batas. Insya Allah mereka akan merasakan ketentraman, merasakan kenyamanan. Seperti dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran :
“ Alladziina aamanuu wa lam yalbisuu iimaanahum bizhulmin ulaa-ika lahumul amnu wahum muhtaduuna “.
Artinya : “ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk “. ( Q.S.6.82 ).
2. Mereka yang suka melakukan tindakan zalim, sewenang-wenang terhadap orang lain itu adalah mereka yang memiliki kelainan, mereka kehilangan akal sehat, boleh jadi potensi akal, pemikiran yang mereka miliki telah terkontaminasi oleh bujukan, rayuan iblis laknatullaah atau dikuasai oleh kemauan hawa nafsu yang tidak terkendalikan, sehingga potensi akal dan panca indera mereka tidak berfungsi sama sekali. Kenyataan ini telah dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran :
“ Lahum quluubul laa yafqahuuna bihaa, wa lahum a’yunul laa yubshiruuna bihaa, wa lahu adzaanul laa yasma’ uuna bihaa. ulaa-ika kal a’aami bal hum adhallu. ulaa-ika humul ghaafiluuna “.
Artinya : “ Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah ) dan mereka memiliki mata, ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah ), dan mereka mempunyai telinga, ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ( ayat-ayat Allah ). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. ( Q.S.7.179 ).
Begitulah gambaran mereka yang selalu melakukan tindakan yang merugikan orang lain, dengan berbagai cara dan modusnya, karena hati, akal sehatnya tidak berfungsi. Begitu juga potensi panca inderanya pun tidak bisa dimanfaatkan kepada yang baik.
Karena matanya telah dibutakan oleh hawa nafsunya untuk melihat kebenaran, telinganya pun juga tidak mampu mendengarkan ayat-ayat Allah SWT, mendengarkan nasehat, pencerahan untuk kebaikan pun mereka telah tuli. Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, Allah SWT telah menyediakan tempat yang layak bagi mereka, yaitu neraka jahannam.
3. Mereka yang selalu membuat kegaduhan, kezaliman, merugikan orang lain, memakan hak orang lain, menahan hak orang lain, meskipun yang bersangkutan telah melaksanakan kewajibannya, berlaku semena-mena itu adalah mereka yang sombong, tidak mau menerima kebenaran, masukan, nasehat yang disampaikan oleh para pakarnya dianggap angin lalu saja. Mereka lebih mencintai kecurangan, kebohongan dari pada kebenaran, bahkan mereka menganggap perbuatannya yang merusak, merugikan orang lain, umat dan bangsa itulah yang benar. Lalu Allah SWT memberikan teguran, ancaman dan siksa disebabkan aneka kezaliman yang mereka lakukan.
“ Faka-ayyim min qaryatin ahlaknaahaa wa hiya zhaalimatun fahiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusihaa wabi’rim mu’ath-thalatiw wa qashrim masyiidin “
Artinya : “ Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena ( penduduk ) nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan ( betapa banyak pula ) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi ( yang tidak ada penghuninya ).” ( Q.S.22.45 ).
Oleh sebab itu hendaklah kisah, kejadian dan peristiwa masa lalu, yang pernah dialami umat terdahulu dapat diambil pembelajaran dan hikmahnya bagi umat yang datang kemudian, jangan pula peristiwa yang menghancurkan umat masa lalu terulang kembali.
Seiring dengan ayat di atas Allah SWT juga mengancam mereka yang berlaku zalim, suka melakukan kemaksiatan, merusak kehormatan orang lain. Tidak akan memberikan dispensasi, memaafkan keterlanjuran mereka yang telah tersesat jauh dari kebenaran, mempersekutukan Allah SWT dan menurutkan hawa nafsu, tidak akan dimaafkan oleh Allah SWT.
“ Yauma laa yanfa’uzh zhaalimiina ma’dziratuhum wa lahumul la’anatu wa lahum suu-ud daa-ri “.
Artinya : “ ( yaitu ) hari ketika permintaan maaf tidak berguna orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk. “ ( Q.S.40.52 ).
Sementara itu Rasulullah Muhammad SAW dalam menyikapi perbuatan zalim, yang merugikan sesama, melanggar batasan yang telah ditentukan dan berbuat semena-mena terhadap orang lain, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan melalui sabdanya :
“ Ittaquzh zhulma fa innazh-zhulma zhulumaatuy yaumal qiyaamati “.
Artinya : “ Jagalah diri kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat “. ( H.R. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim ).
Dalam kesempatan yang lain Rasulullah Muhammad SAW juga pernah mengingatkan umat Islam, agar mampu menyelamatkan saudaranya dalam berlaku zalim dan jangan sampai ada di antara saudaranya teraniaya disebabkan kezaliman saudaranya.
“ Qaala Rasuulullaahi : “ Unshur akhaaka zhaaliman aw mazhluuman, faqaala rajulun : Ya Rasuulallaahi anshuruhu idzaa kaana mazhluuman afaraita idzaa kaana zhaaliman kaifa anshuruhu, qaala : tahjuzuhu aw tamna’uhu minazh-zhulmi fainna dzaalika nashruhu “
Artinya : “ Rasulullah Muhammad SAW bersabda : “ Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang terzalimi “ maka seorang lelaki bertanya? Aku akan menolongnya jika dia terzalimi, tapi jika dia berbuat zalim bagaimana caranya aku menolongnya? Rasululullah menjawab : “ engkau menolongnya dengan cara menghalangi dan mencegahnya dari melakukan kezaliman, maka itulah cara menolongnya.” ( H.R. Bukhari ).
Dalam hadis lain juga Rasulullah Muhammad SAW pernah menegaskan bahwa do’a orang yang teraniaya, yang selalu terpinggirkan, tidak mendapatkan perhatian yang serius oleh berbagai pihak akan segera dikabulkan oleh Allah SWT.
“ Ittaquu da’watal mazhluumi fa innahaa tuhmal ‘alal ghamaami yaquulullaahu wa ‘izniy wa jalaaliy la-anshurannaka wa law bakda hiinin “
Artinya : “ Takutlah kalian terhadap do’a orang yang teraniaya, karena sesungguhnya do’a orang yang teraniaya menembus awan, lalu Allah berfirman : “ Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu sekalipun dalam beberapa waktu lagi.” ( H.R. Thabrani ).
Berdasarkan keterangan hadis Rasulullah Muhammad SAW di atas, beliau memerintahkan umat Islam untuk selalu proaktif, berupaya menolong orang yang teraniaya dan yang menganiaya; dengan jalan menyelamatkan saudara kita yang teraniaya, dirugikan oleh seorang yang bengis, kejam dan semena-mena terhadap orang lain.
Kemudian Rasulullah Muhammad SAW juga memerintahkan umat Islam untuk membantu orang yang suka menganiaya, pelaku zalim dari perbuatan kejamnya. Dengan cara membatasi, melarang, menghalangi dan mencegah mereka dalam melakukan kezaliman, perampokan dan segala bentuk perbuatan maksiat yang akan merugikan seseorang, masyarakat , umat dan bangsa.
Justeru itu, meski pun perbuatan zalim sudah merajalela, ada di mana-mana, maka tugas umat Islam dalam melaksanakan dakwah, amar makruf nahi mungkar tidak boleh berhenti. Umat Islam bersama lapisan masyarakat dan APH harus menyadari betapa pentingnya melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, untuk mengantisipasi dampak negatif dari perbuatan zalim yang tengah meruyak saat ini. Seperti : penyalahgunaan narkoba yang sudah sangat membahayakan umat dan bangsa, kalau tidak cepat diantisipasi perdagangan narkoba yang sepertinya terorganisir dengan rapi.
Boleh jadi menjadi ancaman serius bagi kelangsungan masa depan generasi muda, bahkan bisa membuat hilangnya masa depan generasi muda atau terjadinya loss generation.
Di samping itu, termasuklah yang sangat memprihatinkan umat dan bangsa penyalahgunaan wewenang oleh para penyelenggara negara, dengan terjadinya penyelewengan keuangan negara oleh para koruptor berdasi, yang berilmu tinggi, tetapi tidak memiliki integritas, cinta tanah airnya dipertanyakan?
Mereka telah kehilangan hati nurani, semangat patriotisme mereka sudah sirna. Ditambah pula dengan terus membengkaknya utang luar negeri Indonesia, yang membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk, kehidupan rakyat semakin sulit, PHK terjadi di mana-mana, lapangan kerja semakin sulit, sementara rakyat selalu dibebani dengan pajak. Bahkan negara menurut pakar ekonomi keuangan dan hukum, negara dibiayai 80% lebih dari memajak rakyatnya.
Pada hal Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan SDA yang melimpah. Seolah-olah pemerintah lebih perhatian kepada Amerika untuk mengelola tambang emas di Papua, lebih menyayangi bangsa asing dari pada rakyatnya sendiri, dengan menyerahkan pengelolaan nikel kepada China komunis. Begitu juga dengan hasil tambang lainnya, termasuk BBM katanya selalu merugi yang berasal dari bumi pertiwi, tetapi rakyatnya terpaksa mengantri berjam-jam untuk mendapatkannya.
Kiranya para petinggi, pengusaha, legislator, pihak eksekutif, yudikatif , TNI dan Polri serta Presiden Prabowo Subianto segeralah berbuat, melakukan pembenahan penegakan hukum dan keadilan.
Hukumlah seberat-beratnya para pencoleng, pencuri dan para koruptor aset negara, kalau perlu dihukum mati seperti yang telah diusulkan oleh Ketua Umum MUI Republik Indonesia. Jangan sampai terlambat Pak PS sebelum tahun 2030 Indonesia bubar, seperti yang pernah Pak PS lontarkan sewaktu kampanye.
Jangan sampai tahun 2045 Indonesia Emas, menjadi Indonesia Cemas, wa na’udzubillaahi mindzalik, aamiin … wallaahu a’lam bishshawaab.
Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*