Marten Roniady Dilewakan Sebagai Datuk Mangkuto Kayo di Ladang Laweh Batipuah Baruah

Marten Roniady Dilewakan Sebagai Datuk Mangkuto Kayo di Ladang Laweh Batipuah Baruah

Tanahdatar,— Prosesi pengangkatan  Marten Roniady sebagai  Datuk Mangkuto Kayo dari Suko Koto berlangsung khidmat dan penuh nilai adat di Jorong Ladang Laweh, Nagari Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh.

Upacara ini digelar sebagai tindak lanjut dari wafatnya Aryewendi Dt. Mangkuto Kayo  yang sebelumnya memegang gelar tersebut.

Kepergian beliau meninggalkan kekosongan kepemimpinan adat di suku sehingga diperlukan pengangkatan datuk baru demi menjaga kesinambungan tradisi dan ketertiban adat.

Sebelum prosesi malewakan gala dilaksanakan, kaum terlebih dahulu mengadakan musyawarah adat untuk menentukan pewaris gelar. Melalui mufakat para ninik mamak, disepakati bahwa gelar Datuk Mangkuto Kayo diamanahkan kepada Marten Roniady, yang sebelumnya menyandang gelar Katik Mangkuto Kayo.

Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan atas kecakapan beliau dalam membimbing anak kemenakan serta menjaga martabat suku dan nagari.

Prosesi adat kemudian berlangsung melalui penyampaian pidato adat antara Datuk Mangkuto dan Datuk Panduko Basa, yang menandai sahnya penyerahan tanggung jawab sesuai ketentuan adat Minangkabau. Suasana prosesi berlangsung penuh hikmat, memperlihatkan penghormatan mendalam terhadap warisan budaya yang terpelihara secara turun-temurun.

Ritual malewakan gala ini dihadiri  pemangku adat dari berbagai suku di Nagari Batipuh Baruah, yaitu Datuk Sarian dari Suku Jambak, Angku Datuk Jomagek dari Suku Malayu, Angku Datuk Barbangso dari Suku Koto, Angku Datuk Tuo dari Suku Panyalai, Angku Datuk Sati dari Suku Sikumbang, Angku Datuk Katumanggungan dari Suku Koto, Angku Datuk Panduko Majo Lelo dari Suku Pisang, serta Datuk Tuo Kampung dari Nagari Batipuh Baruah.

Kehadiran para pemangku adat ini memperkuat legitimasi dan dukungan penuh terhadap pengangkatan Datuk Mangkuto Kayo yang baru.

Sementara itu, Angku Datuk Tuo seusai prosesi menyampaikan harapannya agar Datuk Mangkuto Kayo mampu menjaga amanah dengan adil dan arif.

Ia menekankan bahwa seorang datuk harus mampu menjadi tempat mengadu bagi kaum, bersikap teguh dalam adat, serta hadir dalam setiap persoalan yang dihadapi anak kemenakan. Ia menegaskan bahwa jabatan datuk bukan sekadar gelar, tetapi tanggung jawab besar yang wajib dijalankan dengan ketulusan.

Selain itu, Datuk Tuo menambahkan pesan khusus yang mengingatkan Datuk Mangkuto Kayo untuk selalu menjaga persatuan kaum dan menghormati setiap pemangku adat.

Ia menekankan pentingnya kesabaran, keteladanan, dan komitmen dalam menjalankan tugas, serta selalu menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Menurutnya, seorang datuk yang mampu menjalin komunikasi baik dengan ninik mamak dan kaum akan memperkuat adat dan membangun suasana damai di nagari.

Harapan serupa  disampaikan Angku Datuk Sati dan mengingatkan bahwa seorang datuk harus menjaga marwah suku, memelihara hubungan baik dengan para ninik mamak, serta mengayomi seluruh anggota kaum tanpa memandang perbedaan.

Ia berharap Datuk Mangkuto Kayo dapat membawa suasana damai, memperkuat persatuan, dan selalu berpegang teguh pada nilai adat basandi syarak.

Datuk Sati menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan adat dan  berpesan agar Datuk Mangkuto Kayo senantiasa membuka diri terhadap nasihat para ninik mamak, tidak mengambil keputusan seorang diri, dan selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan kaum.

Menurut mereka, kekuatan seorang datuk terletak pada kemampuannya merangkul semua unsur kaum, menjaga hubungan yang harmonis, serta menjadi teladan yang baik di tengah masyarakat.

Angku Datuk Sati mengharapkan   Datuk Mangkuto Kayo menjadi teladan yang konsisten bagi generasi muda. Ia berharap sang datuk baru dapat membimbing kaum dengan penuh kebijaksanaan, menegakkan keadilan, dan senantiasa mengedepankan nilai-nilai adat dalam setiap keputusan. Angku Datuk Sati juga menekankan pentingnya menjaga harmoni antar-suku serta memperkuat solidaritas dan persatuan dalam masyarakat.

Datuk Mangkuto Kayo yang baru dilantik menyampaikan pesan dan komitmennya sendiri. Ia mengaku terharu atas kepercayaan yang diberikan dan berjanji akan memegang amanah dengan penuh tanggung jawab.

Ia meminta dukungan, masukan, dan bimbingan dari para ninik mamak serta seluruh pemangku adat agar setiap keputusan yang diambil selalu mengutamakan kepentingan kaum. Ia menegaskan tekadnya untuk menjaga adat, mempersatukan masyarakat, dan menuntun generasi muda sesuai nilai-nilai Minangkabau.

Datuk Mangkuto Kayo tampak tak kuasa menahan haru. Dengan suara bergetar, beliau menyampaikan rasa syukur atas amanah besar yang dipercayakan kepadanya serta memohon dukungan dan masukan dari seluruh ninik mamak agar dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Ia berjanji akan bekerja dengan rendah hati, menjaga marwah suku, dan memimpin sesuai ajaran adat Minangkabau.

Prosesi adat kemudian ditutup dengan doa bersama dan sebelumnya diawali.makan bajamba sebagai simbol syukur dan persatuan masyarakat.

Dengan dilantiknya  Marten Roniady sebagai  Datuk Mangkuto Kayo, masyarakat berharap kepemimpinan adat di Suko Koto tetap kuat dan berjalan selaras dengan falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (mdtk)