Oleh : H. Abdel Haq, S.Ag, MA. *
Dalam kehidupan kita sehari-hari kata iman tidak asing lagi, bahkan sudah merupakan sebuah bahasa yang sangat populer. Akan tetapi kebanyakan dari kita belum mengerti betul apa yang dimaksud dengan iman yang sebenarnya.
Keimanan yang dimaksud adalah sebuah keyakinan yang terhunjam dalam jiwa, hati sanubari seseorang muslim yang beriman.
Ada pun definisi dari keimanan seseorang yang diungkapkan oleh para pakar fiqih Islam adalah :
” At-tashdiiqu bilqalbi, wal-qaulu billisaani, wal’amalu bil arkaani “.
Artinya : ” dibenarkan dalam hati, diucapkan oleh lidah dan diamalkan oleh anggota badan “.
Berdasarkan definisi di atas, jelaslah bagi kita bahwa keimanan itu adalah sebuah keyakinan, kepercayaan yang melekat erat dalam hati seseorang terhadap keberadaan, keesaan Allah Swt beserta sifat-sifat-Nya Yang Maha Segalanya, yang tergabung dalam asmaa-ul husna.
Keyakinan, Kepercayaan yang dimaksud bukanlah sekedar mempercayai esensi, adanya Allah Swt sebagai pencipta, pemelihara, pengatur dan penguasa alam semesta beserta isinya. Akan tetapi, kepercayaan, keyakinan yang dimiliki itu, diiringi dengan sebuah pernyataan, pengungkapan yang nyata dengan lisan. Setelah diucapkan, diikrarkan dalam hati lalu ditindaklanjuti melalui kegiatan, aktivitas nyata, berupa amal kebaikan. Kalau sekedar mempercayai esensi, keberadaan Allah Swt termasuk mengakui, meyakini tauhid Rubbubiyah.
Apa itu Tauhid Rubbubiyah ?
Pada dasarnya, semua makhluk ciptaan Allah Swt meyakini, mengakui keberadaan Allah Swt sebagai pencipta alam semesta beserta isinya. Namun, kepercayaan itu, hanya sampai pada tingkat meyakini sebagai ” The big of Creator “. Yaitu sekedar mengakui Allah Swt sebagai maha pencipta segala apa yang ada di alam ini beserta isinya.
Kepercayaan seperti ini pun dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al-Quran :
” Allahu khaaliqu kulli syay-in, wa huwa ‘alaa kulli syay-iw wakiilun “. ( Surah Az-Zumar ayat 62 ).
Artinya : ” Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu “. ( Q.S. 39.62 ).
Mengakui dan mempercayai Allah Swt sebagai Maha Pencipta Segalanya, tidak ada satu pun makhluk yang ragu, walaupun sebesar biji zarrah, sekecil atom pun.
Namun, keyakinan terhadap Allah Swt tidak boleh berhenti sampai di sini.
Kalau keyakinan, kepercayaan kepada Allah Swt hanya sampai pada tataran Sang Khaliq, The big of Creator unsich. Semua makhluk ciptaan-Nya, mengakui sepenuhnya semua apa yang ada di bumi dan langit itulah adalah hasil ciptaan Allah Swt semata, tanpa ada bantuan oleh makhluk apa pun.
Bahkan, syaitan dan iblis bersama komunitas dan kroninya pun mengakui adanya Allah Swt sebagai pencipta segalanya.
Allah Swt menjelaskan dalam firman-Nya surah Az-Zukhruf ayat 9 :
” Wa lain sa-altahum man khalaqas samaawaati wal ardhi layaquulunna khalaqahunnal ‘aziizul ‘aliimu ”
Artinya : ” Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ” Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Pastilah mereka akan menjawab, ” Semuanya diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui “. ( Q.S. 43.9 ).
Sikap yang beginilah yang dimaksud dengan Tauhid Rubbubiyah. Keyakinan, kepercayaan kita terhadap Allah Swt tidak boleh berhenti dan selesai pada fase tauhid Rubbubiyah saja.
Bahwa Allah Swt menciptakan segala sesuatu yang ada di langit, apa yang ada di muka bumi. Sekaligus Allah Swt bertindak sebagai pemelihara, pengatur, penguasa seluruh alam dan memiliki sifat-sifat utama yang terdapat dalam Asmaa-ul Husna.
Inilah yang disebut dengan Tauhid Rubbubiyah.
Keyakinan, kepercayaan tentang Tauhid Rubbubiyah itu harus kita lanjutkan kepada fase berikutnya. Yaitu meyakini, mempercayai dan mengakui Tauhid Uluhiyah.
Apa itu Tauhid Uluhiyah?
Tauhid Uluhiyah, adalah mengesakan Allah Swt dalam setiap gerak gerik dalam semua lini kehidupan. Menjadikan Allah Swt sebagai sandaran, tempat mengadu dan meminta. Hanya kepada Allah saja kita menyembah dan mengabdikan diri. Hanya kepada Allah Swt saja kita meminta bantuan dan pertolongan.
Tidak akan menyembah berhala, tidak menyembah selain Dia, terjauh dari mempersekutukan Allah Swt dengan sesuatu apa pun juga.
Tidak akan patuh dan tunduk kepada aturan dan tuntunan-Nya, loyalitas tertinggi hanya kepada Allah Swt saja. Termasuk tidak mematuhi pemimpin yang tidak patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.
Alangkah naifnya dan tidak logis bagi seorang muslim yang mengakui Allah Swt sebagai Zat Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Pemelihara, Maha Bijaksana, Maha Pemberi, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Pengampun dan Maha Segalanya. Tetapi dalam kehidupannya, mereka menyembah selain Allah Swt.
Kenyataan seperti ini tak ubahnya dengan syaitan dan iblis, yang taraf kepercayaannya kepada Allah Swt hanya sampai Tauhid Rubbubiyah.
Selanjutnya, syaitan dan iblis mengingkari perintah Allah Swt dan mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sebagai muslim yang beriman yang telah mengakui Tauhid Rubbubiyah, mau tidak mau wajib ditindaklanjuti dengan mengaplikasikan segala aspek kehidupannya untuk mengabdikan diri kepada Allah Swt.
Ini merupakan konsekuensi dari mengakui keesaan Allah Swt sebagai Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Pemelihara dan Maha Penguasa alam semesta beserta apa yang ada di dalamnya, yang dikenal dengan Tauhid Rubbubiyah.
Justeru itu, umat Islam harus mampu mengaplikasikan keyakinan, kepercayaan kepada Allah Swt dalam aneka ragam kegiatan yang bernilai ibadah kepada Allah Swt dalam pengertian yang luas dan tidak menyembah selain-Nya.
Bukankah, setiap kita mendirikan shalat, kita berikrar dan bertekad bulat untuk menyembah Allah Swt saja dan menjadikan Allah Swt sebagai tempat minta bantuan dan pertolongan dalam semua lini kehidupan ini.
” Iyyaaka na’budu wa Iyyaaka kanasta’iin ”
Artinya : ” Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan “. ( Q.S.1.5 ).
Pernyataan dan kebulatan tekad seorang muslim yang beriman setiap mendirikan shalat, adalah sebuah janji, ikrar yang menyentak untuk diaplikasikan dalam semua lini kehidupan kita.
Karena tugas dan fungsi kita diciptakan oleh Allah Swt adalah untuk beribadah dan mengabdikan diri hanya kepada Allah Swt semata.
Sebagaimana dijelaskan Allah Swt dalam surah Adz-Dzaariyaat ayat 56 :
” Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduuni “.
Artinya : ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku “. ( Q.S 51.56 ).
Dengan demikian sangat jelas dan teranglah bagi umatIslam, bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt dalam pengertian yang luas.
Dalam ayat lain Allah Swt menyatakan lagi, apa pun yang dikerjakan oleh manusia, harus bisa dikonversi, diarahkan untuk menjadi amal kebaikan yang bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Seperti dalam surah Al-An’am ayat 162 – 163 :
” Qul inna shalaatiy wa nusukiy wa mahyaaya wa mamaatiy lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahuu wa bidzaalika umirtu wa ana awwalul muslimiin “.
Artinya : ” Katakanlah ( Muhammad ),
” Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri ( muslim )”.
( Q.S.6.162-163 ).
Berdasarkan beberapa ayat di atas, semakin jelas dan teranglah bagi umat Islam yang beriman. Bahwa konsekuensi beriman itu, bukanlah sekedar meyakini, mempercayai adanya Allah Swt sebagai pencipta alam semesta. Akan tetapi lebih luas lagi pengertian iman itu, dengan mengimani adanya hari akhirat, mempercayai adanya para malaikat, kitab-kitab, para nabi serta melakukan berbagai aktivitas, kegiatan yang bernilai amal kebaikan yang bernilai ibadah di sisi Allah.
Hal ini dijelaskan oleh Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 177 :
” Laisal birra an tuwalluu wujuuhakum qibalal masyriqi wal maghribi, wa laakinnal birra man aamana billaahi wal yaumal aakhira, wal malaa-ikati wal kitaabi, wan nabiyyiina. Wa aatal maala ‘alaa hubbihii dzawil qurbaa wal yataamaa wal masaakiina wabnassabiili, wassaa-iliina wa firriqaabi. Wa aqaamashalaata wa aataz zakaata. Wal muufuuna bi’ahdihim idzaa ‘aahaduu. Wash shaabiriina fil baksaa-i wadh dharraa-i wa hiinal baksi. Ulaa-ikalladziina shadaquu. Wa ulaa-ika humul muttaquuna “.
Artinya : ” Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah
( kebajikan )orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-
kitab dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan ( musafir ), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa “. ( Q.S. 2.177 ).
Begitulah sebuah konsekuensi beriman itu, bukanlah sekedar mempercayai esensi, adanya Allah sebagai Maha Pencipta Segalanya. Akan tetapi, iman dan kepercayaan itu meliputi berbagai kebajikan.
Di antaranya beriman kepada Allah, hari akhirat, para malaikat, kitab-kitab dan beriman kepada para nabi. Yang kesemuanya ini termasuk rukun iman.
Keimanan itu pun bukan pula sekedar meyakini rukun iman, tetapi meminta bukti dari keimanan tersebut, dengan melakukan berbagai aktivitas, amal kebaikan yang bermanfaat dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt.
Ada pun tindak lanjut dari pengakuan iman itu, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Memberikan harta yang dicintai kepada kerabat. 2. Peduli terhadap anak yatim.
3. Cepat tanggap terhadap orang-orang miskin. 4. Berbuat baik kepada musafir.
5. Peduli kepada peminta-minta.
6. Memerdekakan hamba sahaya.
7. Mendirikan shalat. 8. Menunaikan zakat.
9. Menepati janji apabila berjanji.
10. Memiliki kesabaran dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah yang sebenarnya beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.
Sementara itu Rasulullah Muhammad SAW dalam sabdanya menyatakan :
‘An Anasin RA ‘anin nabiyyi SAW Qaala :
” Tsalaatsun man kunna fiihi wajada halaawatal iimaani; ayyakuunallaahu wa rasuulahuu ahabba ilaihi mimmaa siwaahumaa, wa ayyuhibbal mar-a laa yuhibbu illallaha, wa ayyakraha ayya’uuda fil kufri ( bakda idz anqadzahullaahu kamaa yakrahu ayyuqdzafa finnaari “.
Artinya : Dari Anas RA bahwa Nabi SAW bersabda : ” Ada tiga hal yang apabila ada pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; yaitu hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, hendaknya mencintai seseorang hanya karena Allah dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah diberi petunjuk
oleh Allah, sebagaimana ia benci apabila dilemparkan ke dalam api neraka “. ( H.R Bukhari).
Berdasarkan dalil yang kuat dari Al-Quran dan Sunnah yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah diketahui dan dipahami, bahwa iman itu bukanlah sekedar percaya, meyakini adanya Allah Swt. Tetapi keimanan itu harus dikembangkan lagi kepada pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang keyakinan yang dimiliki terhadap Allah Swt.
Dengan cara mencintai Allah Swt dan Rasul-Nya, mengimani rukun iman, termasuk mempercayai takdir, ketentuan dari Allah Swt serta melakukan berbagai amal kebaikan kepada sesama manusia.
Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah, Pendidikan, Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya