Tulisan Ke IX
Catatan Mustafa akmal Datuk Sidi Ali SH MH
Medinah, —Siang itu, waktu Arab Saudi, rombongan kami memulai perjalanan menuju kota suci Madinah. Jalan raya yang membentang luas membelah gurun,
sesekali dihiasi pemandangan pegunungan yang berdiri gagah di kejauhan. Perjalanan darat ini membawa suasana berbeda—lebih hening, lebih teduh, seakan mempersiapkan hati untuk bertemu tanah yang pernah diinjak oleh junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ.
Di tengah perjalanan, bus kami berhenti di rest area pertama. Tempatnya sederhana, namun istimewa bagi sebagian jemaah, karena di sana terdapat sebuah restoran milik orang Indonesia. Aroma kuah bakso langsung menyapa hidung, membangkitkan kenangan akan tanah air. Beberapa jemaah tak melewatkan kesempatan untuk mencicipinya—mungkin ini bakso paling jauh dari kampung halaman, namun hangatnya sama seperti di rumah.
Perjalanan dilanjutkan, dan menjelang sore kami kembali singgah di rest area kedua. Di sini suasananya jauh lebih ramai. Ratusan mobil dan bus berjajar, membawa para jemaah yang datang dari berbagai arah—ada yang menuju Madinah, ada pula yang dari Mekkah. Semuanya berbaur dalam satu tujuan: beribadah dan menjemput berkah. Riuh suara manusia berpadu dengan hiruk pikuk kendaraan, namun hati tetap terasa damai.
Menjelang malam, mobil kami akhirnya memasuki kota Madinah. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 waktu Arab Saudi. Lampu kota memantulkan cahaya hangat,
sementara udara terasa lebih sejuk dibanding Mekkah. Sesampainya di hotel, Ustaz Aan segera membagi kamar untuk para jemaah. Setelah itu, kami langsung menikmati makan malam yang telah disiapkan pihak travel.
Tak lama beristirahat, Ustaz Aan mengajak kami melaksanakan shalat Magrib dan Isya di pelataran Masjid Nabawi. Malam itu terasa sangat berbeda—angin lembut menyapu wajah, cahaya lampu masjid memantulkan kilau keemasan, dan lantunan ayat suci bergema meresap ke hati. Inilah yang saya sebut malam yang sahdu di Kota Nabi.
Selesai shalat, rombongan laki-laki diajak ziarah ke makam Rasulullah ﷺ yang berada di dalam Masjid Nabawi. Sementara itu, jemaah wanita hanya bisa melihat dari kejauhan karena aturan masjid.
Satu per satu, kami berjalan mendekat, berdoa di hadapan makam Nabi Muhammad ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Tidak ada kata yang mampu melukiskan perasaan saat itu—hanya getaran hati, linangan air mata, dan rasa syukur yang membuncah.
Kami kembali ke hotel untuk beristirahat, namun waktu istirahat terasa singkat. Pukul 03.00 dini hari, jemaah wanita mendapat giliran untuk melaksanakan ibadah di Raudhah, taman surga yang dijanjikan Rasulullah ﷺ.
Meski ada yang sedang flu atau batuk, semangat mereka tak luntur. Senyum dan cahaya di wajah mereka memantulkan kebahagiaan yang sulit diungkapkan.
Bagi jemaah laki-laki, sebelum dapat memasuki Raudhah, mereka harus menunggu giliran hingga pukul 10.40 waktu setempat dan melalui proses verifikasi menggunakan sistem Nusub.
Proses ini memastikan ketertiban dan keamanan selama ibadah berlangsung, sehingga semua jemaah bisa menjalankan shalat di tempat yang sangat istimewa itu dengan khusyuk dan nyaman.
Setelah verifikasi selesai, satu per satu jemaah dipersilakan masuk untuk melaksanakan shalat sunnah di Raudhah. Suasana di dalam penuh khidmat dan hening, setiap langkah terasa begitu bermakna karena berada di taman surga yang dijanjikan Rasulullah ﷺ. Di sana, doa-doa terpanjat dengan tulus, mengalir dari hati yang penuh harap dan cinta kepada Sang Pencipta.
Kami melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyukan, merasakan kedamaian yang menyelimuti jiwa. Di sana, kami berbaur dengan jemaah dari penjuru dunia, bersatu dalam satu ikatan iman dan harapan yang sama. Suara doa dan lantunan ayat suci menjadi pengikat hati-hati yang berbeda bahasa dan asal, namun satu tujuan: mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selanjutnya, kami menunggu jadwal shalat Jumat meskipun waktu masih tersisa sekitar dua jam. Namun, kami tetap bertahan di Masjid Nabawi, merasakan suasana teduh dan penuh berkah, sambil menyiapkan hati untuk menyambut waktu shalat Jumat yang penuh keutamaan.
Bagi kami, shalat Jumat kali ini menjadi momentum kedua dalam rangkaian agenda umrah. Sebelumnya, Jumat pertama, tanggal 1, kami melaksanakan shalat di Masjidil Haram Makkah, dan kini pada Jumat berikutnya ini, kami menunaikan shalat Jumat di Masjid Nabawi Madinah, sebuah pengalaman spiritual yang sangat bermakna dan menguatkan keimanan.
Menjelang masuk waktu Jumat, suasana di Masjid Nabawi semakin khusyuk. Jemaah mulai berbondong-bondong memasuki masjid, mengambil tempat terbaik untuk mendengar khutbah dan melaksanakan shalat. Cahaya matahari menembus jendela-jendela masjid, memantulkan sinar keemasan yang menambah keindahan dan ketenangan suasana.
Di antara riuh rendah suara langkah kaki dan bisikan doa, hati kami terasa tenang, seolah semua beban dunia tercurah menjadi satu harapan di hadapan Allah SWT.
Ketika suara adzan Jumat berkumandang, seketika suasana berubah menjadi hening yang khidmat. Kami menyimak khutbah dengan penuh perhatian, membiarkan setiap kata dan pesan terserap dalam sanubari. Khutbah yang mengingatkan tentang kasih sayang, persaudaraan, dan kewajiban menjaga keimanan, menjadi pelecut semangat kami untuk terus memperbaiki diri dan memperkuat ikatan dengan Sang Pencipta. Di sana, dalam kebersamaan umat dari berbagai belahan dunia, kami merasakan getaran ukhuwah Islamiyah yang sangat kuat.
Setelah shalat Jumat selesai, kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan menikmati makan siang bersama. Waktu sejenak ini kami gunakan untuk menyegarkan badan dan menenangkan hati sebelum melanjutkan aktivitas ibadah di sore hari.
Di sore harinya, kami kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat Ashar dan menghabiskan waktu hingga shalat Isya. Suasana masjid yang teduh dan penuh keberkahan membuat setiap detik terasa istimewa, memberi kesempatan untuk terus berzikir, bermunajat, dan memperkuat ikatan hati dengan Sang Pencipta.
Setelah shalat Jumat selesai, kami melanjutkan dengan shalat jenazah yang rutin dilaksanakan setiap waktu shalat, baik di Mekkah maupun di Madinah. Suasana khusyuk tetap terjaga, meski saya sendiri belum pernah mengetahui dengan pasti di mana jenazah-jenazah tersebut ditempatkan.
Di balik ketidaktahuan itu, ada keheningan dan rasa hormat yang dalam, mengingatkan kami akan kefanaan hidup dan pentingnya menyiapkan diri untuk akhirat. Yang menarik, semua jemaah berdiri dengan tertib dan khidmat tanpa perlu dipandu oleh siapa pun.
Keikhlasan dan kesadaran akan pentingnya shalat jenazah menyelimuti setiap hati, menciptakan suasana hening penuh penghormatan yang begitu mendalam.
Saat malam tiba, kami kembali ke hotel dengan hati yang penuh rasa syukur dan damai.
Setiap detik yang kami lalui di Madinah terasa seperti anugerah luar biasa—sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperdalam iman, dan merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat.
Kota Nabi ini bukan hanya tempat, melainkan juga saksi bisu perjalanan spiritual yang menguatkan jiwa dan menumbuhkan harapan baru dalam setiap langkah.
Kami sadar bahwa perjalanan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen untuk terus menjalankan kehidupan dengan penuh ketakwaan dan kebaikan.
Semoga setiap doa yang dipanjatkan di tanah suci ini menjadi cahaya penerang di jalan kami, dan semoga kami selalu diberi kekuatan untuk menjaga amanah iman yang telah diperbaharui di Madinah, kota penuh berkah dan rahmat (mdtk)