Tulisan Ke Enam
Mekah, Pagi itu, kami memulai perjalanan dari hotel menuju kota Thaif tepat pukul 08.00 waktu Mekkah. Di dalam bus, Ustaz Aan memandu dengan semangat, menyampaikan sejarah dan makna kota Thaif dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Mekkah ini terletak di dataran tinggi, membuat udaranya lebih sejuk dibanding Mekkah. Inilah tempat Rasulullah mencari dukungan setelah menghadapi penolakan dari kaum Quraisy.
Kota Thaif kini telah berkembang pesat. Jalan-jalan aspal membelah lereng-lereng bukit yang dulunya hanya berupa jalan tanah berbatu. Gedung-gedung modern dan pusat perbelanjaan berdiri berdampingan dengan kebun-kebun buah. Namun jejak sejarah tetap terjaga, menjadikan Thaif sebagai destinasi wisata dakwah yang sarat makna.
Sekitar pukul 10.00, kami sampai di sebuah tempat pembuatan parfum. Para pengelola menyambut kami dengan ramah. Mereka memperkenalkan berbagai jenis minyak wangi khas Arab, dari bahan alami hingga yang telah diformulasikan secara modern.
kami diajak masuk ke ruang produksi sederhana namun bersih. Di sana, salah seorang staf menjelaskan bahwa proses pembuatan parfum dimulai dari pemilihan bahan dasar.
Bahan-bahan seperti bunga mawar, oud (gaharu), kasturi, dan ambergris diolah secara tradisional untuk menghasilkan aroma yang kuat dan tahan lama. Mereka menunjukkan bagaimana kelopak bunga dikumpulkan dan dikukus untuk mengekstrak minyak atsiri, bahan utama dalam pembuatan parfum berkualitas tinggi.
Proses penyulingan dilakukan dengan teliti menggunakan alat-alat sederhana yang telah mereka gunakan secara turun-temurun. Cairan yang dihasilkan dari penyulingan pertama sangat pekat dan disebut sebagai “attar” murni.
Minyak ini kemudian dicampur dengan alkohol khusus atau bahan pelarut lain yang sesuai untuk menjaga kestabilan dan keharuman aroma. Menariknya, sebagian besar proses ini masih dilakukan secara manual, memperlihatkan betapa terjaganya kearifan lokal dalam industri parfum Arab.
Setelah dicampur, parfum dimasukkan ke dalam botol-botol kaca kecil. Para pekerja dengan cekatan menutup dan melabeli botol satu per satu. Kami diberi kesempatan mencoba langsung beberapa jenis parfum, dari aroma lembut hingga yang tajam dan berani. Semua harum, masing-masing memiliki karakter yang khas.
Proses ini bukan sekadar produksi, tapi juga bentuk seni dan budaya yang telah diwariskan lintas generasi di Thaif. Tak heran jika parfum dari kota ini dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia Islam.
Menariknya, setelah menjelaskan proses pembuatan parfum, para pengelola juga dengan hangat menawarkan dagangan mereka kepada kami. Mereka memperlihatkan berbagai varian parfum yang telah dikemas elegan dalam botol kaca, mulai dari aroma lembut seperti mawar hingga aroma khas gaharu dan kasturi. Khusus bagi jamaah dari Indonesia, mereka memberikan harga diskon yang cukup menarik
. Paket parfum yang biasanya dijual dengan harga standar, ditawarkan lebih murah untuk rombongan kami sebagai bentuk penghormatan dan kedekatan mereka dengan wisatawan muslim dari Nusantara. Pelayanan ramah dan sikap bersahabat dari para pengelola membuat pengalaman berbelanja terasa nyaman dan menyenangkan, seolah kami bukan sekadar membeli wewangian, tetapi juga menyerap kehangatan budaya lokal Thaif.
Salah satu pasangan yang turut bersama rombongan kami Bapak Ikhwindri, Kepala MTsN Sungayang, yang menjalani ibadah umrah bersama istri tercinta, Ibu Elfina dosen di UIN Batusangkar.
Keduanya tampak begitu bersyukur bisa menginjakkan kaki di tanah para nabi ini, menjalani rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Saat berada di pabrik parfum, mereka tampak menikmati setiap proses yang ditunjukkan. Ibu Efi bahkan tak kuasa menahan haru ketika mencium aroma attar murni dari bunga mawar yang sedang disuling.
Beliau menyampaikan bahwa berada di tempat ini bukan hanya pengalaman wisata, tetapi juga menjadi pengingat akan keindahan Islam yang tidak hanya ada pada ibadah ritual, tetapi juga dalam budaya, seni, dan wewangian yang diwariskan sejak zaman Rasulullah.
“Ini bukan sekadar membeli parfum, tapi membawa pulang sepotong sejarah dan jejak peradaban Islam yang luhur,” ucap Ibu Efi lirih, seraya menggenggam tangan suaminya. Kesan mendalam ini semakin menambah nilai spiritual dalam perjalanan kami hari itu.
Suatu hal yang menarik dan menyentuh hati, pimpinan rombongan kami, Ustaz David Sang Putra, tak melewatkan momen indah ini begitu saja.

Dengan penuh perhatian, beliau mengabadikan beberapa jemaah yang sedang berpasangan—terutama mereka yang sudah lanjut usia—dengan latar bunga-bunga harum di sekitar area pabrik parfum. Senyum kebahagiaan tampak jelas di wajah para pasangan lansia itu, seolah menyimpan rasa syukur mendalam bisa menjalani ibadah umrah bersama di usia senja.
Ada cinta yang sederhana namun kuat, terpancar dari sorot mata dan genggaman tangan mereka. Momen-momen kecil seperti ini menjadi pelengkap indah dalam perjalanan spiritual kami di Thaif, mempererat ukhuwah dan menghadirkan nuansa kekeluargaan yang hangat di tengah rombongan.

Hamparan bunga yang tumbuh di sekitar area pabrik seakan menjadi simbol kasih sayang dan cinta yang abadi. Wangi lembut mawar dan warna-warni kelopak yang merekah mengingatkan kami pada kelembutan Rasulullah dalam berdakwah, penuh cinta bahkan kepada mereka yang menyakitinya.
Di antara bunga-bunga itulah tampak pasangan-pasangan lansia berjalan pelan, bergandengan tangan, menatap satu sama lain dengan tatapan yang hangat. Bunga-bunga itu seolah berbicara dalam diam—bahwa cinta yang tumbuh dalam iman dan dipelihara dalam ibadah akan tetap harum, tak lekang oleh usia. Momen ini tak hanya meneduhkan mata, tapi juga menggetarkan hati.
Setelah berbelanja oleh-oleh, perjalanan kami lanjutkan ke pusat kota Thaif. Dari dalam bus, kami melihat jajaran pepohonan dan kebun anggur yang membuat suasana terasa teduh dan tenang.
Beberapa peserta tampak larut dalam perenungan. Terbayang oleh kami betapa beratnya perjalanan Rasulullah ke kota ini, berjalan kaki sejauh itu hanya untuk menerima cemooh dan lemparan batu dari penduduknya. Namun dari kota inilah, kemudian Allah bukakan pertolongan yang lebih luas. (Mdtk)